Pasir Silika RI Dincar Asing

Pasir Silika RI Dincar Asing

- detikFinance
Senin, 17 Nov 2008 11:05 WIB
Pasir Silika RI Dincar Asing
Jakarta - Deposit pasir silika yang berlimpah di Sumatera Utara (Sumut) menjadi incaran negara-negara maju yang sedang gencar mengembangkan energi listrik tenaga surya (solar energy).

Selama ini bahan baku utama teknologi solar energy berasal dari pasir silika yang terlebih dahulu menjadi photovoltaic yang menjadi komponen utama pembangkit listrik tenaga surya.

Hal ini disampaikan oleh Dirjen Industri Alat Transportasi dan Telematika Budi Dharmadi dalam acara Workshop Nasional Solar Energy, Jakarta, Senin (17/11/2008).

Ia mengatakan kebutuhan energi dunia tahun 2001 mencapai 13,5 Tera Watt diperkirakan pada tahun
ini mencapai 15 Tera Watt, dan tahun 2050 akan membengkak 27 tera watt. Sehingga penggunaan pengembangan energi diluar konvensional termasuk solar energy sangat dibutuhkan sebagai alternatif energi listrik.

"Negara-negara maju sudah mengincar pasir silika kita, permintaan ekspor pasir silika dari negara-negara maju, sangat tinggi. Kami pemerintah mencoba membatasi keluarnya pasar silika, yang tidak memberikan nilai tambah yang besar," jelasnya.

Budi menegaskan bahwa sektor pengembangan solar energi di dalam negeri sudah cukup baik di sektor hilirnya, terutama yang dikembangkan oleh PT LEN Industri, namun katanya sektor hulunya belum berkembang.

"Rantai produksinya bagian tengah bolong, hilirnya sudah ada," katanya.

Sementara itu Dirjen Listrik dan Pemanfaatan Energi Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral J. Purwono mengatakan hal yang sama, bahwa masalah pasir silika dalam rangka pengembangan solar energy harus menjadi kepentingan bersama dan ditangani oleh semua pihak.

"Soal pasir silika itu harus menjadi kepentingan bersama, PT LEN harus menjadi pionir di sektor hulu," serunya.

Selama ini dana pengembangan proyek solar energy tersebar diberbagai departemen. Departemen ESDM memiliki anggaran pengembangan solar energy mencapai Rp 800 miliar dan BPPT mencapai anggaran Rp 300 miliar, yang total anggarannya mencapai Rp 1 triliun lebih.

"Kita tidak bisa memproduksi sektor solar Energy sampai 100 %, yang kita bisa dari solar sel ke panel, kalau hulunya kita 50% belum bisa," ujarnya. (hen/ir)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads