BPS (Badan Pusat Statistik) memperkirakan pertumbuhan ekonomi di 2009 paling tinggi hanya mencapai 6%, bahkan besar peluang berada di bawah itu.
Demikian disampaikan oleh Kepala BPS (Badan Pusat Statistik) Rusman Heriawan dalam jumpa pers di Kantor Pusat BPS, Jakarta, Senin (17/10/2008).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain itu, Rusman mengatakan untuk kuartal IV-2008 ekspor juga terancam mengalami penurunan dan yang harus diselamatkan adalah ekspor tekstil dan produk tekstil (TPT).
"Ekspor TPT ini terancam penurunannya, selain itu CPO juga karena harga tidak bergairah, kemudian produk perkebunan akan mengalami perlambatan," ucapnya.
Selain itu, yang perlu diwaspadai pemerintah di saat perlambatan ekonomi dunia karena krisis keuangan di negara-negara maju yang menurunkan permintaan, dikhawatirkan akan menimbulkan banjirnya barang-barang impor dari negara-negara produsen seperti Cina.
"Impor dari Cina kita lihat mulai meningkat, apalagi permintaan negara maju berkurang ini akan memacu ekspor Cina ke Indonesia, jadi kita akan sulit kembangkan ekspor. Harus diwaspadai banjirnya produk dari luar. Tapi karena negara maju permintaan lemah, maka barang-barang tersebut akan dilempar ke negara lain seperti Indonesia," paparnya. (dnl/qom)











































