Hal ini dikatakan oleh Bendahara Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi) Paulus Tjakrawan disela-sela acara Rakornas Kadin Bidang Energi dan Sumber Daya Mineral, Selasa (18/11/2008).
"Penetapan harga Bioetanol dan biodiesel kan ada harga internasionalnya jangan dipaksa untuk mengacu pada MOPS, kami rugi besar sekarang ini. Kalau beberapa bulan lalu ketika BBM tinggi kita memang untung," katanya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Paulus menambahkan saat ini harga solar di MOPS sekitar Rp 4.250 per liter, padahal harga olein (produk turunan minyak sawit mentah) untuk bahan baku biofuel Rp 4.800 per liter.
"Bila harga minyak bumi naik hingga US$ 150 per barel dibeli tidak oleh pemerintah? Kalau Bahan Bakar Nabati harganya naik kenapa tidak dibeli," ketusnya dengan emosi.
Paulus menjelaskan selama ini Pertamina berlindung pada PP Nomor 71 mengenai penetapan harga, yang mengharuskan BUMN itu membeli biofuel dengan acuan harga MOPS. "Pemerintah cepat merevisi PP 71 itu," tegasnya.
Menurutnya keharusan menjual dengan acuan MOPS akan membatasi produsen biofuel kelas menengah untuk memasok ke Pertamina.
"Selama ini Pertamina hanya distribusikan biofuel dari depo Plumpang ke Surabaya, Malang dan Bali. Adanya aturan wajib penggunaan biofuel menyebabkan banyak perusahaan berlomba memasok ke Pertamina, apalagi harga CPO sedang turun," jelasnya.
(hen/lih)











































