Seperti dikutip dari Bernama, Rabu (19/11/2008), kedua pihak sudah menandatangani nota kesepahaman (MoU/Memorandum of Understanding) di Malaysia, Selasa kemarin (18/11/2008).
Penandatangan dilakukan oleh Puncak Niaga Executive Director Tan Sri Rozali Ismail dan Gubernur Banten Ratu Atut Chosiyah. Deputi Perdana Menteri Malaysia Datuk Seri Najib Tun Razak ikut menyaksikan penandatangan tersebut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Nota kesepahaman yang sudah ditandatangani itu akan menjadi pijakan bagi Puncak Niaga untuk menjajaki kesempatan investasi di provinsi lainnya di Indonesia.
Nota kesepahaman tersebut akan berlaku selama setahun terhitung sejak tanggal ditandatangani dengan opsi untuk perpanjangan jika disetujui kedua pihak.
Sebagai tindak lanjut, Ahmad Marzuki menyatakan Puncak Niaga akan segera membentuk tim untuk melakukan feasibility study dalam tiga hingga enam bulan ke depan. Feasibility study akan mencakup aspek teknis, finansial dan hukum sesuai yang berlaku di Indonesia.
Puncak Niaga merupakan perusahaan jasa layanan air terbesar di Malaysia yang juga tercatat di bursa. Perusahaan holding Puncak Niaga mengoperasikan 29 kilang penyulingan air di Selangor, Kuala Lumpur dan Putrajaya dengan kapasitas 1,93 miliar liter per hari. Puncak Niaga memasok air untuk sekitar 1,5 juta orang di Klang Valley dan Putrajaya.
Jika ekspansi di Indonesia berhasil, maka ini akan jadi negara kedua setelah ekspansinya di China. Selanjutnya, Puncak Niaga mengincar beberapa lokasi di India seperti Chennai, Bombay dan lainnya.
(lih/ir)










































