Hal ini karena kenaikan biaya produksi beberapa bulan lalu belum mampu menutupi penjualan mereka karena masih menggunakan harga bahan yang masih tinggi.
Hal ini disampaikan oleh Ketua Umum Asosiasi Produsen Ban Indonesia (APBI) Aziz Pane saat ditemui di Hotel Dharmawangsa Rabu (19/11/2008).
"Kuartal satu biaya produksi naik 6%, karena minyak bumi, lalu kuartal dua ke kuartal tiga naik lagi 12% jadi 18% naik. Nah, waktu minyak mulai turun itu ongkos produksi turun 4%, jadi masih 14% mana mungkin kita sekarang menurunkan harga," jelas Aziz.
Ia menambahkan, langkah ini harus ditempuh oleh para produsen disaat pasar ban melemah diseluruh dunia. Sehingga membuat penjualan ekspor mengalami gangguan ditambah daya serap pasar dalam negeri pun melemah. "Apalagi sekarang kurs dolar terus menguat," katanya.
Target ekspor tahun ini produsen menargetkan hingga US$ 1,2 miliar atau naik dari tahun sebelumnya yaitu US$ 900 juta. Namun ia juga menggarisbawahi target itu akan sulit tercapai tahun ini.
"Satu pabrik mobil di AS tutup dan produsen mobil di Jepang kurangi produksi, makin memperparah permintaan," katanya.
Sedangkan dari sisi produksi, dari target semula 45 juta ban, para produsen telah mengoreksi hanya menjadi 43 juta ban saja pada tahun ini.
"Ekspor tahun 2009 hanya sama dengan 2007 yaitu US$ 1,1 miliar, komposisi ekspor masih 72% dan domestik 28%," katanya.
(hen/qom)











































