Demikian disampaikan Direktur Utama Garuda Indonesia Emirsyah Satar dalam jumap pers seminar mengenai safety penerbangan yang diseleggarakan Asosiasi Perusahaan Penerbangan Asia Pasifik di Hotel Ritz Carlton, Jimbaran, Bali (20/11/2008).
"Dengan nilai rupiah yang lemah, akan sangat murah bagi mereka untuk wisaat ke Bali. Seperti mereka yang di Perth, Australia. Mungkin akan lebih murah ke Bali ketimbang ke negara bagian Australia yang lain," katanya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Biasanya untuk sewa pesawat, perawatan, suku cadang, dan lainnya," tambahnya.
Sementara bagi penerbangan yang setengah rutenya adalah rute internasional, maka pelemahan rupiah relatif lebih aman. Hal ini karena pendapatan mereka juga dinilai dalam dolar sehingga tidak ada gap nilai tukar.
"Kalau operasional penerbangan setengahnya adalah internasional, tentu tidak berdampak. Tapi kalau 100% penerbangan domestik, pendapatan akan turun. Karena terjadi depresiasi rupiah sekitar 20-25% dibandingkan dengan dalam dolar AS," katanya.
Kerugian yang paling besar tentu akan terasa di biaya operasional dan pembukuan keuangan. Emirsyah mencontohkan, jika perusahaan maskapai memiliki utang dalam dolar AS namun pendapatannya dalam rupiah, tentu akan menimbulkan kerugian kurs.
"Tapi yang penting semua airlanes harus fokus agar cashflow tetap positif," tambahnya.
(lih/qom)











































