Hal ini disampaikan oleh Presiden SBY dalam jumpa pers di lantai dua, Hotel California, Copacabana, Rio De Janeiro, Brazil sebelum meninggalkan Rio De Janeiro bertolak menuju Peru, Kamis (20/11/2008) pukul 14.00 atau Jumat Kamis malam pukul 23.00 WIB. Dalam jumpa pers, hadir Ketua DPD Ginandjar Kartasasmita, dan sejumlah menteri, antara lain Menteri ESDM Purnomo Yusgiantoro, Mensesneg Hatta Rajasa, Mentan Anton Apriyantono, dan Menneg LH Rachmat Witoelar.
SBY memutuskan tiga kebijakan penting menghadapi krisi global. Pertama, pembangunan infrastuktur tetap dijalankan. Pembiayaan untuk membangun infrastruktur harus tetap dialirkan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ketiga, mempertahankan sektor riil, dengan mengendalikan kredit dan suku bunga. Saat ini, bunga kredit memang mengalami kenaikan. "Tapi, masih dalam kendali kita," kata SBY.
Dengan cara-cara seperti ini, SBY berharap aktivitas ekonomi tetap berjalan, meski ada krisis. Uang-uang yang disimpan di bank, juga dialirkan sehingga menjadi sesuatu yang produktif.
Terkait hal ini, SBY juga meminta semua pihak untuk mencegah PHK. Terhadap hal ini, SBY meminta meminta Pemda-pemda untuk terus bekerja keras, karena saat ini sudah zaman otonomi. "Cegah PHK di daerah masing-masing, jaga ekspor dan pertahankan sektor riil," pinta SBY.
Terhadap gempa 7,3 SR yang terjadi di Gorontalo beberapa waktu lalu, SBY menyampaikan keprihatinannya. Namun, yang patut disyukuri, gempa dengan kekuatan sebesar itu tidak menimbulkan kerusakan infrastruktur yang besar. (asy/qom)










































