Presiden SBY menyampaikan hal ini saat menjadi keynote speaker dalam The APEC CEO Summit yang digelar di Auditorium Kementerian Pertahanan, Lima, Peru, Jumat (21/11/2008). SBY membawakan pidato dengan judul 'Economic Growth, Inequality and Poverty: What are the Challenges fot APEC's Developing Economies'. The APEC CEO Summit ini dihadiri oleh para kalangan usaha dari berbagai belahan dunia.
Dalam pidatonya, SBY memberikan pemaparan panjang lebar mengenai kisah sukses Indonesia dalam mengatasi berbagai krisis yang melanda. Presiden mengajak kalangan bisnis untuk bersama-sama belajar dari kesalahan masa lalu dan saling memberikan saran terhadap perbaikan ekonomi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Beberapa perusahaan mungkin ambruk, terlalu sulit untuk bertahan. "Kita seharusnya menyelamatkan apa saja yang bisa diselamatkan dan fokus pada harapan masa depan. Pendidikan, usaha kecil dan menengah, energi alternatif, kemajuan teknologi, dan juga menjaga kesejahteraan masyarakat," kata SBY.
Harapan-harapan tersebut, kata SBY, bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah untuk merealisasikannya. Namun pemerintah harus bekerja sama bergandengan tangan dengan kalangan bisnis untuk merealisasikannya.
"Kita menghadapi masa-masa sulit ke depan, tetapi kita masih memiliki pilihan: harapan atau keputusasaan, kesempatan atau kegagalan. Saya percaya bahwa Anda akan membuat pilihan yang tepat," kata SBY saat menutup pidatonya.
Setelah pidato selesai, acara dilanjutkan dengan diskusi panel yang dipandu General Manager Daewoo Asia Pasifik Nick Reilly sebagai moderator. Sebagai panelis adalah Chief Research and Strategic Officer Microsoft Corporation Craig Mundie, CEO Freeport McMoran Copper and Gold Richard Adkerson, dan CEO Alibaba Group Jack Ma. (asy/asy)










































