Hal ini dikatakan oleh ekonom Indef M. Ikhsan Modjo dalam seminar INDEF bertajuk "Krisis Finansial, Kontestasi Politik dan Prospek Ekonomi 2009" di Hotel Atlet Century, Senayan, Jakarta, Rabu (26/11/2008).
"Tekanan yang kuat terhadap investasi dan ekspor di 2009 akan menyebabkan terkoreksinya tingkat pertumbuhan Indonesia secara cukup signifikan," katanya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ikhsan menuturkan tingkat konsumsi dan belanja negara yang diharapkan dapat mengkompensasi kejatuhan investasi dan ekspor juga sulit diharapkan, mengingat berlanjutnya tekanan terhadap rupiah dan masih akutnya ancaman inflasi.
"INDEF memperkirakan tingkat inflasi 2009 6,2%, demikian pula untuk rupiah secara rata-rata di 2009 akan berada di kisaran Rp 12.500/US$," ujarnya.
Dikatakannya arus modal keluar diperkirakan akan terus berlanjut seiring dengan adanya restrukturisasi portofolio pemodal dan belum adanya indikasi sentimen positif perekonomian domestik.
"Masih kuatnya tekanan terhadap harga menyebabkan sulit adanya penurunan signifikan dari suku bunga pada 2009. BI kami perkirakan akan tetap menjaga suku bunga di kisaran 9% sampai dengan Juli-Agustus 2009 untuk menjaga keseimbangan moneter dan terkendalinya inflasi," paparnya.
Dikatakannya suku bunga baru akan turun signifikan pada semester II-2009 seiring dengan berkurangnya tekanan terhadap rupiah dan inflasi dalam negeri. "Untuk SBI 3 bulan kita proyeksikan akan mencapai 7,5% sampai akhir 2009," imbuhnya.
(dnl/ddn)










































