Demikian disampaikan oleh VP Pemasaran BBM Ritel Pertamina Denni Wisnuwardani dalam acara diskusi di Graha Niaga Jakarta, Rabu (26/11/2008)
"Kondisi ini masih sensitif dengan turunnya harga premium Pertamina benar-benar merugi," katanya.
Ia menambahkan, kerugian tersebut disebabkan karena setiap kilang yang dimiliki Pertamina memiliki batas minimum produksi. Dengan asumsi minyak mentah turun dibawah US$ 70 per barel bahkan sampai menembus diangka US$ 49 per barel maka terjadi ketidakseimbangan antara harga yang dijual yang turun dengan biaya produksi yang sama.
"Kerugian premium itu per liter Rp 130 sampai Rp 150 per liter, kita bisa survive kalau pada harga US$ 70 per barel dengan margin tipis," ucapnya.
Untuk menekan kerugian tersebut, Denni mengatakan Pertamina telah melakukan langkah-langkah efisiensi biaya termasuk distribusi dan lain-lain.
"Kita melakukan efisiensi dengan melakukan cut anggaran interen termasuk dinas, rapat kita melakukan teleconference, efisiensi di angkutan mobil-mobil," jelasnya.
(hen/qom)











































