Pengangguran Diperkirakan Bakal Jadi 9,5%

Pengangguran Diperkirakan Bakal Jadi 9,5%

- detikFinance
Rabu, 26 Nov 2008 14:32 WIB
Pengangguran Diperkirakan Bakal Jadi 9,5%
Jakarta - Tingkat pengangguran pada tahun 2009 diperkirakan meningkat menjadi 9,5% dari proyeksi akhir 2008 yang sebesar 8,7% seiring dengan terjadinya gangguan terhadap stabilitas makro dan pelemahan pertumbuhan ekonomi.

Hal ini dikatakan oleh Pengamat INDEF M. Ikhsan Modjo dalam seminar INDEF bertajuk "Krisis Finansial, Kontestasi Politik dan Prospek Ekonomi 2009" di Hotel Atlet Century, Senayan, Jakarta, Rabu (26/11/2008).

"Gangguan terhadap stabilitas makro dan pelemahan pertumbuhan yang ada pada gilirannya akan menyebabkan bertambahnya tingkat pengangguran dan kemiskinan," katanya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Modjo mengatakan tidak fleksibelnya pasar tenaga kerja domestik akan menyebabkan perusahaan menyerap penurunan permintaan melalui pengurangan jumlah pekerja ketumbang penurunan upah.

"SKB 4 menteri tentang upah implisit sangat reaksioner dan pro pengusaha, karena komponen upah pada total ongkos produksi hanya berkisar 2-30%. Jadi kenaikkan upah minimum tidak berdampak signifikan terhadap profit karena adanya cost past through," tuturnya.

Angka proyeksi Indef ini berbeda dengan data Badan Pusat Statistik. BPS menuturkan pengangguran di Indonesia pada bulan Februari turun hingga 1,12 juta orang atau sekitar 10,6% dalam kurun waktu setahun.

Jumlah pengangguran di Indonesia selama Februari 2008 tercatat turun menjadi 9,43 juta orang, dibandingkan angka pengangguran pada Februari 2007 yang sebanyak 10,55 juta orang.

Angka Kemiskinan

Dia juga mengatakan, selain tingkat pengangguran, tingkat kemiskinan di 2009 juga akan meningkat menjadi 16,3% dari proyeksi sampai akhir 2008 yang diperkirakan sebesar 15,7%.

"Konsekuensi dari peningkatan pengangguran ini tentu saja adalah peningkatan angka kemiskinan. Kami memprediksikan terdapat peningkatan kemiskinan sebesar 0,6% pada 2009 sebagai akibat krisis global," katanya.

Kebijakan yang diambil pemerintah seperti Bantuan Langsung Tunai (BLT) akan sulit menahan pelemahan perekonomian yang sudah bersifat struktural. Perlu satu kebijakan yang lebih bersifat menyeluruh dan dilakukan dalam jangka panjang untuk menanggulangi dampak dari krisis global kali ini pada masyarakat menengah bawah. (dnl/ddn)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads