Demikian disampaikan oleh VP Pemasaran BBM Ritel Pertamina Denni Wisnuwardani dalam acara diskusi di Graha Niaga Jakarta, Rabu (26/11/2008)
"Memang itu berat sekali, kita dua-duanya (Pertamina dan pengusaha SPBU) akan mengkaji lagi dari sisi margin, kita bicarakan bersama-sama berapa biaya yang dikeluarkan masing-masing termasuk Hiswana," katanya.
Sementara itu Ketua Himpunan Pengusaha Swasta (Hiswana) Migas M. Nur Adib menambahkan bahwa saat ini margin para pengusaha SPBU sangat tipis dengan kondisi sekarang ini sangat sulit untuk bisa survive terutama untuk SPBU kecil.
"Saya menghimbau agar pemerintah menaikan harga alpha," serunya.
Selama ini, lanjut Adib, para pengusaha harus dikenai PPh final hingga 0,3%, kenaikan UMR para karyawan, operasional biaya listrik, air, perawatan dan lain-lain.
Diakuinya hingga kini margin gross yang diterima pengusaha perliternya rata-rata mencapai Rp 180 sampai Rp 200 per liter dengan harus dipotong biaya-biaya tadi.
"Sehingga SPBU yang omzet-omzet kecil itu merugi karena bunga bank naik terus, keluhan kami adalah SPBU makin banyak," keluhnya.
Pertamina Minta Tambah Alpha
Sedangkan Pertamina selaku operator penyalur BBM mendesak hal yang sama yaitu agar prosentase alpha untuk Pertamina dinaikan apalagi pada saat harga minyak yang sedang turun sekarang ini.
"Kita akan menego pemerintah untuk menaikan alpha, dengan kondisi seperti ini alpha sekarang sudah tidak ideal," ucapnya.
Ia mencontohkan untuk biaya distribusi ke wilayah di luar Jawa, misalnya Papua kalau dihitung-hitung alphanya sudah diatas 5% sedangkan untuk Jawa masih disekitar 5%.
"Kalau crude yang normal seperti dulu masih oke pada alpha 9%, tapi sekarang dengan crude sudah turun," ungkapnya.
Seperti diketahui sejak tahun 2005 Pertamina menerapkan formula yang berbeda dalam perhitungan margin dan biaya distribusi yaitu formula MOPS plus alpha.
"Tahun 2009 alphanya akan hanya 8%, apalagi kita distribusikan ke Papua kita harus efisien," ujarnya.
(hen/qom)











































