Demikian disampaikan Dirut PLN Fahmi Mochtar dalam diskusi pendanaan kelistrikan di Kantor Pusat PLN, Jalan Trunojoyo, Jakarta (27/11/2008).
Secara detail, kebutuhan dana investasi tersebut terbagi menjadi US$ 56,9 miliar untuk pembangkitan, US$ 14,4 miliar untuk transmisi dan US$ 12,4 miliar untuk distribusi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Terutama karena faktor bank yang mensyaratkan zero risk. Alokasi risiko, cenderung mereka arahkan kepada pihak yang paling mampu memitigasinya," katanya.
Selain itu faktor country risk Indonesia juga masih relatif tinggi, sehingga para lender cenderung meminta dukungan ataupun jaminan dari pemerintah untuk meminimalisir risiko.
"Oleh karena itu, diperlukan kesiapan dari pengembang untuk meyakinkan pihak lender mengenai kemampuannya," lanjutnya.
Total pembangkitan PLN yang ada sekarang adalah 25.222 MW. Hingga 2018, Indonesia membutuhkan tambahan kapasitas pembangkit sebesar 57.442 MW. Total kapasitas pembangkit ini terdiri dari 22.168 MW dari proyek listrik swasta dan 35.274 MW dari PLN.
Selain itu, rasio elektrofikasi Indonesai saat ini sebesar 60,78%, rata-rata pertumbuhan penjualan energi per tahun sebesar 6,8% sejak 2002-2007.
"Padahal penambahan kapasitas pembangkit dan budget hanya untuk pertumbuhan penjualan listrik sebesar 1,9%," katanya.
Rata-rata harga penjualan listrik adalah Rp 630/kwh dengan biaya produksi sebesar Rp 1.317/kwh dimana Rp 885/kwh diantaranya adalah biaya bahan bakar. (lih/ddn)










































