Hal ini disampaikan Kepala Biro Perencanaan dan Kerjasama Luar Negeri, Djoko Murjanto dalam jumpa pers di Gedung Departemen Pekerjaan Umum, Jalan Pattimura, Jakarta, Kamis (27/11/2008).
"Pada prakteknya dalam pembangunan jalan tol ada yang feasible financial dan ada yang tidak. Untuk yang feasible financial pemerintah tidak akan masuk, namun jika tidak maka pemerintah akan masuk. Setelah selesai, kami baru jual ke swasta," ujar Djoko.
Djoko mencontohkan untuk pembangunan tol akses tanjung priok, pemerintah masuk disitu. "Swasta tidak mau investasi karena tanahnya susah dan dalam proses kontruksi dinilai akan banyak gangguan," jelasnya.
Selain tol akses Tanjung Priok, lanjut Djoko, pihaknya juga sedang menyiapkan dana untuk pembangunan tol Medan- Kualanamu- Tebing Tinggi sepanjang 60 kilometer dan Bandung Intra Urban yang menghubungkan Pasteur- Pasupati- Cicaheum- Ujungberung- Gedebage- Cileunyi.
"Untuk pendanaannya kita dorong dengan menggunakan pinjaman luar negeri. Untuk pembangunan tol Medan- Kualanamu- Tebing Tinggi dengan pinjaman lunak dari China, Jepang, dan Korea sebesar US$ 151,5 juta. Sedangkan untuk pembangunan tol Bandung Intra Urban, kami rencananya akan memperoleh pinjaman sebesar US$ 165 juta dari NEW JICA," ungkap Djoko.
(qom/qom)










































