Demikian disampaikan Dirut Pertamina Ari H Soemarno disela-sela keterangan pers di Kantor Pusat Pertamina, Jakarta, Jumat (28/11/2008).
"Dana untuk sektor hilir sudah cukup, misalnya dari pendapatan Pertamina, penjualan BBM sehari mencapai Rp 1 triliun," katanya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Capex Pertamina Rp 19 triliun untuk tahun depan, kebanyakan untuk sektor hulu," tambahnya.
2009
Pertamina memang memproyeksikan profit yang bisa diraup pada 2009 akan menciut. Hal ini terutama disebabkan turunnya harga minyak dunia ke level US$ 50-54 per barel.
Padahal, Pertamina sudah menggunakan patokan harga minyak untuk 2009 sebesar US$ 70 per barel. Patokan harga minyak ini masih lebih rendah ketimbang patokan harga minyak 2008 yang sebesar US$ 95 per barel.
Β
"Untuk 2009, kita lihat adjustementnya. Asumsi kita tadinya harga minyak US$ 70 barel, tapi sekarang sedang dievaluasi. Pemerintah juga evaluasi lagi harga minyak mendatang," katanya.
Meski begitu, Pertamina mengaku tidak akan mengurangi jatah investasi di sektor hulu. Meski harga minyak menurun, Pertamina merasa masih cukup kompetitif untuk berinvestasi di dalam negeri.
"Kita tetap lanjut karena kita cukup kompetitif di dalam negeri, kita akan teruskan kegiatan eksplorasi. Namun yang jadi konsentrasi adalah ketersediaan rig," tambahnya.
Mencari rig atau menara bor saat ini ternyata masih jadi kendala bagi Pertamina karena harga sewanya yang masih mahal. Namun harga sewa rig ini diharapkan mulai turun seiring penundaan investasi beberapa perusahaan kelas kakap.
"Saya baru dari Brasil, Petrobras menemukan suatu ladang yang cukup besar, tapi dengan harga minyak seperti ini mereka memikirkan untuk melakukan penyesuaian waktu," katanya.
(lih/qom)











































