Demikian disampaikan Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Rusman Heriawan dalam konferensi pers dikantornya, Jalan DR Sutomo, Jakarta, Senin (1/12/2008).
"Memang sudah banyak yang menduga, inflasi bulan ini sangat jinak. Memang kita tidak rasakan tekanan-tekanan harga," jelas Rusman.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Inflasi terjadi karena adanya kenaikan harga yang ditunjukkan oleh kenaikan indeks pada kelompokkelompok barang dan jasa sebagai berikut : kelompok makanan jadi, minuman, rokok & tembakau 1,13 persen, kelompok perumahan, air, listrik, gas & bahan bakar 0,23 persen, kelompok sandang 0,72 persen, kelompok kesehatan 0,37 persen dan kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga 0,26 persen.
Sedangkan kelompok yang mengalami penurunan indeks adalah kelompok bahan makanan 0,67 persen dan kelompok transpor, komunikasi & jasa keuangan 0,31 persen.
Laju inflasi tahun kalender (Januari-November) 2008 sebesar 11,10 persen, sedangkan laju inflasi year on year (November 2008 terhadap November 2007) sebesar 11,68 persen..
Menurut Rusman, setidaknya ada 4 penyebab rendahnya inflasi. Pertama adalah tidak adanya tekanan permintaan, dalam artian permintaan tidak melonjak-lonjak seperti pada bulan puasa dan Lebaran.
"Tapi bukan berarti tidak ada daya beli. Artinya, demand kembali normal," tambah Rusman.
Faktor kedua, sandang dan perumahan itu menurun drastis permintaannya. "Paling terasa penurunannya. Jadi produk-produk pakaian sekarang ini adalah yang telah dibeli sebelumnya," urai Rusman.
Namun untuk permintaan makanan dan minuman tetap normal, dengan produksi dan penyediaan yang sangat memadai.
"Tidak ada gejolak di harga beras dan minyak goreng seperti bulan sebelumnya karena kita mudah mendapatkanya," tambahnya.
Ketiga, harga-harga komoditas sedang menurun, bahkan minyak goreng dalam 3 bulan terakhir terjadi deflasi. "Jadi eksportir sudah tidak tertarik lagi untuk mengupayakan ekspor sehingga suplai dalam negeri aman," kata Rusman.
Keempat, belum dilihat adanya imported inflation akibat melemahnya nilai tukar rupiah saat ini. "Sebab impor barang konsmsi dan bahan baku menurun sehingga tidak ada pergerakan imported inflation," pungkas Rusman.
(qom/ir)











































