Hal ini dikatakan oleh Kepala BPS (Badan Pusat Statistik) Rusman Heriawan dalam jumpa pers di kantornya, Jakarta, Senin (1/12/2008).
"Kalau November dan Desember 2008 ini maksimal 500 ribu per bulan berarti jumlah wisman sampai akhir 2008 adalah sekitar 6 jutaan, jadi tidak tercapai 7 juta," katanya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kan program tersebut tidak instan, ini suatu bentuk investasi mencitrakan kembali pariwisata Indonesia. Bisa saja nanti dampaknya di 2009, jadi tidak serta merta tahun ini," jelasnya.
Dikatakannya sektor pariwisata tetap merupakan sektor yang penting bagi perekonomian Indonesia. "Tapi tantangan di 2009 untuk pariwisata sulit, karena kemampuan orang akan berkurang akibat krisis," ujarnya.
Rusman menuturkan jika sampai akhir 2008, pemerintah bisa mendatangkan 6 juta wisman maka itu merupakan sejarah baru. "Karena belum pernah terjadi sebelumnya, mudah-mudahan ini juga bisa dipertahankan tahun depan," tukasnya.
Ia juga menyarankan agar aksi teroris di Mumbai, India dan juga situasi politik yang tidak kondusif di Thailand seharusnya bisa dimanfaatkan oleh Indonesia sebagai peluang untuk meningkatkan jumlah wisatawan.
"Kejadian di India bisa jadi peluang bagi pariwisata di Indonesia di tahun depan. Sama seperti pada saat peristiwa bom Bali dimana negara-negara tetangga kita dapat meraih peluang tersebut. Situasi kita saat ini lebih baik dari India atau Thailand," tuturnya.
(dnl/qom)











































