Kepala BPS (Badan Pusat Statistik) Rusman Heriawan mengatakan, volume ekspor Indonesia ke negara-negara besar mulai memperlihatkan penurunan di Oktober 2008.
"Saat ini sudah mulai terjadi penurunan ekspor yang tajam ke Cina dan kedua ke Amerika Serikat," ujarnya dalam jumpa pers di kantornya, Jakarta, Senin (1/12/2008).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain itu ekspor ke Australia turun US$ 50,1 juta dibandingkan September 2008. Kemudian ekspor ke Korea Selatan juga turun US$ 163,7 juta dibandingkan September 2008. Ekspor ke ASEAN pun ikut turun US$ 101 juta dibandingkan September 2008.
Meski begitu, ekspor ke Jepangn masih memperlihatkan harapan karena meningkat US$ 145,8 juta di Oktober 2008, ke Uni Eropa juga naik US$ 55,8 juta. "Namun kita tidak tahu bagaimana ke depannya, apakah masih naik," ujarnya.
Melihat hal ini, Rusman menegaskan sudah harus ada diversifikasi tujuan ekspor karena meskipun pemerintah sudah gembar-gembor akan dilakukan diversifikasi namun sampai saat ini belum juga dilakukan.
"Pemerintah belum berbuat apa-apa untuk diversifikasi. Memang sulit diversifikasi seperti ke Timur Tengah meskipun kita sepaham atau seagama, masih banyak barrier-nya (hambatan)," jelasnya.
"Jadi diversifikasi harus dilakukan, kalau tidak kita akan merasakan dampak pelemahan ekonomi di AS dan Jepang," pungkasnya.
Selain menurunnya permintaan, Rusman memaparkan hampir semua harga komoditas di dunia menurun yang menjadi penyebab melemahnya ekspor. "Untuk CPO harga turun 5,6% di Oktober 2008, tapi dengan PE 0% mudah-mudahan ada dorongan, sayang kalau harga turun dan dolar naik tapi ekspor malah turun," katanya.
Dipaparkan Rusman, harga karet turun 22,4%, besi baja turun 42%, kopi dan teh turun 26%, pulp atau bubur kertas turun 61%.
Kemudian untuk volume ekspor, karet volume ekspornya di Oktober 2008 turun 15%, besi baja turun 39%, kopi dan teh turun 31%, pulp atau bubur kertas turun 59%, tembaga turun 9%.
(dnl/lih)










































