Menurut Ketua Hiswana Migas Nur Adib menjelaskan, skorsing terjadi di sejumlah wilayah seperti DKI Jakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat dan Sulawesi.
"Kalau di seluruh Indonesia mungkin bisa sampai 50 SPBU. Di Sumatera Selatan saja sampai 19 SPBU. Belum di daerah lainnya," katanya ketika dihubungi detikFinance, Rabu (3/12/2008).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ini sangat tidak adil, masak kita harus beli dengan harga Rp 6.000 lalu jual dengan Rp 5.500. Marjinnya kecil banget lagi, gimana jadinya ini?! Masak orang dagang disuruh rugi, kalau nggak mau lalu ditutup?! Logikanya dimana?" ketusnya.
Karena ketidakjelasan ini, Hiswana Migas pun tadi pagi mengajukan pencabutan skors tersebut. Beberapa SPBU yang sempat tutup karena pasokan BBM-nya dihentikan kini sudah buka kembali.
Negosiasi Marjin
Awal mula kelangkaan BBM di sejumlah SPBU adalah tidak tercapainya kesepakatan marjin antara Pertamina dan SPBU. Menurut Nur Adib, kedua pihak sebenarnya sudah sepakat adanya kompensasi Rp 500 per liter. Kompensasi ini diberikan pada SPBU yang menebus Premium tanggal 29 November dan mendapat kiriman pada 30 November.
"Tapi begitu diajukan ke pemegang sahamnya tiba-tiba ditolak dan kita hanya dikasih Rp 80 per liter. Penolakkan baru dikasih tahu tiba-tiba pada hari Jumat (28/11/2008) jam 9 malam, sehingga tidak ada waktu sosialisasi," katanya.
Ia mengaku sangat kecewa pada pemegang saham Pertamina yang dalam hal ini diwakili Kementrian BUMN. Hiswana Migas mengaku pernah mencoba menjelaskannya pada Deputi Menneg BUMN, namun tidak diberi kesempatan sama sekali.
"Saya sangat kecewa pada Deputi Menneg BUMN-nya, dia sangat arogan sekali," katanya.
(lih/qom)











































