Demikian disampaikan Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu di Istana Negara, Jl Medan Merdeka Utara, Jakarta, Kamis (4/12/2008).
"Paruh pertama 2009 itu pasti berat untuk semua negara, termasuk Indonesia. Saya belum bisa mengeluarkan angka (berapa dampak penurunan ekspor tahun depan). Kami internal pemerintah masih rapat terus untuk melakukan revisi," ujarnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau harga tahun ini kan tinggi ya, rata-rata harga tahun ini US$ 700, dibanding tahun lalu US$ 630-an, tahun 2006, US$ 500 sekian. Ini dia posisi sekarang kan harganya US$ 500 sekian. Tahun depan harga rata-ratanya berapa. Itu yang masih belum kita ketahui," jelas Mari.
Mari mengatakan, jika dilihat dari volume pasokan dan permintaa, seharusnya harga CPO masih akan stabil tahun depan. Tetapi Indonesia yang juga produsen dan eksportir terbesar CPO sudah selayaknya tetap mencari pasar tujuan baru.
"India, China masih ada pertumbuhan, tapi Amerika dan Eropa kan turun. Kita kan juga ekspor kelapa sawit ke sana, terutama Eropa. Kita harus cari pasar yang baru, apa itu Rusia atau Timur Tengah untuk mengisi turunnya pasar Eropa," jelasnya.
Sementara itu, untuk produk-produk lain seperti tekstil, Mari memprediksi nilai ekspornya belum tentu akan turun. Karena ada pengalihan permintaan dari China ke Indonesia. Agar nilai ekspor tidak turun, pasar tujuan ekspor memang harus segera diantisipasi.
"Misalnya pasar yang terbuka di Jepang ini yang harusnya diambil oleh
perusahaan-perusahan eksportir TPT (tekstil dan produk tekstil) kita dan sepatu. Karena itu kan langsung jadi 0 bea masuknya. Jadi ini peluang," ujar Mari optimistik.
Selain Jepang, Mari juga mengincar pasar nontradisional, karena pasar ke Amerika dan Eropa sudah pasti turun atau mengambil alih ke pasar lain. "Tadinya itu diisi oleh China, kita potensi bersaing dengan mereka. tapi tetap harus ada upayanya," kata dia.
Bagaimana kita bisa bersaing dengan China?
"Ini ada satu fenomena. China mata uangnya menguat, kita melemah. Dari sisi itu aja itu sudah ada competitiveness sendiri. Yang kedua, China sebelum krisis pun biaya tenaga kerjanya, peraturan tenaga kerjanya itu sudah bertambah meningkat. Gajinya naik. Ada masalah peraturan tenaga kerja yang dianggap menyulitkan sehingga sudah banyak minat relokasi dari China ke tempat lain untuk produksi maupun sumber untuk membeli barangnya. Itu larinya ke Indonesia dan Vietnam. Jadi ini peluang. kita sudah promosi. Guanzhou juga sudah ke sini," pungkasnya.
(anw/lih)











































