Demikian disampaikan Menneg BUMN Sofyan Djalil dalam seminar di Hotel Grand Hyatt, Jakarta, Kamis (4/12/2008).
Awalnya, pengusaha SPBU meminta Pertamina mengganti selisih harga lama premium dengan harga yang baru, yaitu sebesar Rp 500 per liter. Namun setelah dikurangi keuntungan bagi SPBU sebesar Rp 180 per liter, maka selisihnya tinggal Rp 320 per liter.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Sofyan, jika Pertamina harus menanggug seluruh selisih harga Premium sebanyak Rp 500 per liter, maka itu akan sangat membebani. Untuk pemakaian sehari dengan tingkat konsumsi 54.000 kilo liter, maka subsidi yang harus digelontorkan adalah Rp 27 miliar.
"Prinsip kita adalah sharing the pain. Pertamina tanggung 50, pompa besin tanggung 50. Tapi ternyata pompa bensin tidak mau sharing the pain," keluhnya.
Namun subsidi ini hanya diberikan pada perubahan harga tanggal 1 Desember kemarin. Masalah siapa yang menanggung selisih harga ini sempat memicu kelangkaan BBM karena SPBU menolak mengisi BBM jika selisih harganya tidak diganti.
Pertamina pun tak mau kalah dengan menskors puluhan SPBU yang dengan sengaja tidak mengisi stoknya. Namun kondisi sudah berangsur pulih sejak hari ini.
(lih/ir)











































