Menurut pengamat perminyakan Kurtubi, jika menggunakan acuan harga minyak US$ 42-43 per barel dan nilai tukar rupiah Rp 12.000/US$, maka biaya pokok solar dan premium hanya Rp 3.800 per liter.
"Itu sudah termasuk margin ritel untuk SPBU. Kalau ditambah pajak pertambahan nilai sebesar 10%, maka menjadi Rp 4.200 per liter. Jadi kalau sekarang harga solar dan premium Rp 5.500, maka pemerintah sudah untung. Harusnya harga BBM bisa turun minimal Rp 1.000," katanya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebelumnya pemerintah memang mengakui, dengan harga jual premium Rp 5.500 per liter, tidak ada lagi subsidi bagi premium. Namun untuk solar hingga saat ini belum bisa diturunkan.
Padahal menurut Kurtubi biaya pokok solar dan premium sebenarnya sama saja karena berasal dari bahan baku yang sama dan diolah di kilang yang sama.
Tak Perlu Tunggu Januari
Kurtubi juga menyatakan, pemerintah tidak perlu menunggu bulan depan untuk menurunkanharga solar maupun premium. Karena sebenarnya penuruanan harga BBM saat ini merupakan langkah yangtepat karena bisa menjadi stimulus sektor riil yang sedang terpukul krisis ekonomi.
"Nggak harus tunggu Januari. Pemerintah ini kurang respon, mestinya penurunan ini bisa dipakai pemerintah untuk mendorong daya beli, apalagi sekarang banyak yang terancam PHK," katanya.
Apalagi sebenarnya harga solar dan premium sudah mencapai keekonomiannya sejak harga minyak mentah berada di kisaran US$ 55 per barel. Jadi, tunggu apa lagi? Harga solar dan premium harusnya turun sekarang juga.
(lih/ir)











































