Jika dibandingkan dengan total penduduk dunia yang sekitar 6 miliar orang, maka jumlah penduduk yang masih hidup tanpa listrik adalah sekitar 23%. Di Indonesia sendiri baru 60% penduduknya yang bisa menikmati listrik. Kondisi ini jelas bukan prestasi.
Untuk itu, banyak kampanye yang menyerukan pemanfaatan energi sekaligus pengembangan energi alternatif termasuk energi listrik tenaga surya, termasuk melalui media periklanan.
Menurut Ketua Umum Asosiasi Periklanan Dunia (International Adevertising Association) Indra Abidin, upaya kampanye yang dilakukan insan periklanan dunia menjadi penting meski saat ini terjadi krisis dunia. Cara ini merupakan bagian dari tanggung jawab sosial para pelaku iklan untuk memajukan pemanfaatan energi surya.
Ia mencontohkan di India, yang sekitar 400 juta penduduknya belum menikmati listrik, akan dilakukan pemilihan kampenya iklan layanan masyarakat terbaik soal penyediaan energi lampu listrik tenaga surya.
"Sekarang ini setidaknya ada 1,4 miliar penduduk dunia dari 6 miliar yang belum menikmati listrik. Iklan layanan masyarakat berperan serta bagaimana mengembangan tenaga surya sebagai energi alternatif," ujarnya ketika dihubungi detikFinance, Jumat (5/12/2008).
Ia menambahkan meski India cukup banyak penduduknya yang belum teraliri listrik, namun saat ini sudah muncul beberapa orang yang berhasil mengembangkan energi alternatif termasuk energi surya hingga berhasil menjadi pemenang Nobel.
Menurutnya iklan layanan masyarakat sangat perlu, meski harus ada upaya aksi selanjutnya. Ia memberikan contoh pada saat Indonesia mengkampanyekan iklan layanan masyarakat mengenai Keluaga Berencana (KB) lingkaran biru mampu menekan tingkat kelahiran penduduk pada tahun 1980-an dan beberapa iklan layanan masyarakat pada 1998 mengenai Aku Anak Sekolah.
"Yang ada sekarang masih iklan layanan masyarakat, tapi belum ada yang sampai ke pemasaran sosial," ucapnya.
(hen/lih)











































