"Kejatuhan sementara harga minyak hingga di bawah US$ 25 per barel sangat mungkin terjadi, terutama jika China ikut terkena resesi global," demikian hasil riset Merrill Lynch seperti dikutip Reuters, Minggu (7/12/2008).
Riset tersebut mengatakan penurunan harga minyak dunia bakal terus terjadi sepanjang triwulan I-2009 hingga menemukan titik jenuh memasuki triwulan II-2009. Namun riset Merrill Lynch memproyeksikan harga minyak dunia bakal kembali bergerak naik pada semester II-2009.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Harga minyak sempat menembus level tertinggi dalam sejarah di level US$147 per barel pada Juli 2008. Namun tidak sampai satu semester, harga minyak kembali anjlok tajam lebih dari US$100 ke level US$ 40 per barel. Pelemahan harga minyak terus berlanjut seiring dengan ancaman pelemahan pertumbuhan ekonomi dunia akibat krisis finansial global.
International Energy Agency (IEA) memproyeksikan permintaan minyak global periode 2008-2013 yang lebih rendah menjadi 1,2% dari perkiraan semua tumbuh 1,6%.
Sebelumnya pada Juli 2008, IEA memprediksi permintaan minyak akan naik dari 86,2 juta barel per hari di tahun 2008 menjadi 91,3 juta barel per hari di tahun 2013.
Resesi ekonomi yang melanda AS, Uni Eropa, Jepang dan negara lainnya, telah membuat investor cemas bahwa permintaan minyak di negara-negara industri akan melemah terutama dari China. (dro/dro)











































