Demikian disampaikan Guru Besar Ilmu Ekonomi IPB, Hermanto siregar dalam Seminar Nasional 'Menuju Ketahanan Pangan Yang Kokoh: Sebagai Buffer Krisis dan Pondasi Ketahanan Nasional' di Hotel Nikko, Jakarta, Selasa (9/12).
"Karena prakiraan produksi beras pada 2009 adalah 433,2 juta ton, jadi beras yang diperdagangkan hanya sekitar 6,6 persen," ujarnya.
Pada tahun 2009, lanjut hermanto, ekspor beras yang dilakukan Thailand, India dan Amerika diperkirakan menurun. Ini dipicu penurunan impor beras secara signifikan oleh Indonesia dan Bangladesh yang tidak mampu dikompensasi oleh kenaikan impor Philipna.
"Penurunan tajam impor beras Indonesia dan angladesh jauh melebihi kenaikan impor terutama yg terjadi di Phipilina," katanya.
Hermanto mengakui krisis ekonomi global saat ini akan menyebabkan harga komoditas pangan termasuk beras menjadi sangat fluktuatif. Apalagi stock to use beras dunia saat ini masih sangat rendah sehingga sangat sensitif terhadap perubahan harga.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain krisis ekonomi, isu lain yang membuat harga komoditas fluktuatif adalah isu lingkungan seperti pemanasan global (global warming) juga telah menyebabkan produksi turun hingga 15-20 persen.
"Peningkatan permintaan pangan oleh negara emerging terutama China dan India serta untuk pengembangan biofuel telah memperparah kondisi ini." pungkasnya. (lih/lih)










































