Indonesia Diuntungkan PMA dan Ekspor yang Rendah

Indonesia Diuntungkan PMA dan Ekspor yang Rendah

- detikFinance
Selasa, 09 Des 2008 15:44 WIB
Indonesia Diuntungkan PMA dan Ekspor yang Rendah
Jakarta - Penanaman modal asing (Foreign Direct Investment/FDI) dan tingkat ekspor Indonesia yang selama ini rendah ternyata membawa keberuntungan. Kok bisa? Karena FDI dan ekspor yang rendah membuat ketergantungan Indonesia terhadap luar negeri tidak setinggi negara lain.

Pada saat krisis ekonomi seperti sekarang, ketergantungan terhadap ekonomi luar negeri yang rendah bisa meminimalisir dampak kejatuhan ekonomi di negara-negara adidaya.

Demikian disampaikan pengamat ekonomi Aviliani di sela-sela acara diskusi 'Resesi Global: Siapa Korban? Sampai kapan?' di Kantor DPP PPP, Jalan Diponegoro, Jakarta, Selasa (9/12/2008).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Dari dulu FDI juga segitu-gitu saja. Disetujui banyak tapi tidak masuk. Jadi FDI dan ekspor rendah menjadi keberuntungan bagi kita sebab ini menunjukan kita tidak bergantung pada dunia eksternal," katanya.

Ketergantungan perekonomian Indonesia terhadap ekspor yang sekitar 29 persen memang tidak sebesar Malaysia yang mencapai 79 persen. Sehingga Indonesia memang sudah terbiasa dengan tingkat ekspor yang rendah.

Kondisi seperti ini akhirnya membuat dampak PHK di Indonesia diperkirakan tidak sebesar PHK di negara-negara lain.

"Perekonomian Malaysia misalnya 79 persennya sangat bergantung pada ekspor. Sedangkan Indonesia ekspornya hanya 29 persen. Artinya tanpa krisis pun memang sudah segitu. Kalaupun ada penurunan ekspor, namun itu tidak berdampak signifikan terhadap seluruh kondisi di indonesia," ujarnya.

Faktor lainnya, lanjut Aviliani, adalah komponen pendukung GDP. Sebanyak 52 persen GDP Indonesia didukung UKM dan informal yang tidak membutuhkan banyak dolar.

"Sektor ini tidak perlu dolar. Kalau  bisa ditambah padat karya itu bisa memberi pertumbuhan 4.9 persen," jelasnya.

Meski begitu, bukan berarti Indonesia bakal bebas PHK. Menneg Koperasi dan UKM Suryadharma Ali menyatakan PHK memang menjadi hal yang tidak dapat dihindarkan, meskipun angka PHK di Indonesia tidak setinggi negara lain.

"Berdasarkan data Depnaker ada beberapa perusahaan yang mengajukan untuk mem-PHK karyawannya. Totalnya 12.600 orang yang akan di PHK, dan 1.200 orang yang dirumahkan. Ini angka sementara dan akan terus bertambah," ungkapnya.

(lih/lih)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads