Konsumsi Beras RI Masih Tertinggi di Dunia

Konsumsi Beras RI Masih Tertinggi di Dunia

- detikFinance
Selasa, 09 Des 2008 17:49 WIB
Konsumsi Beras RI Masih Tertinggi di Dunia
Jakarta - Indonesia masih mencatat sebagai negara pengkonsumsi beras tertinggi di dunia. Setiap tahun konsumsi beras oleh masyarakat Indonesia mencapai 139 kilogram per kapita. Pemerintah akan memperbarui inpres perberasan yang mengarah ke diversifikasi pangan.

"Di dalam Inpres beras mendatang ada langkah diversifikasi bahan pokok untuk menjaga konsumsi beras atau kapita agar tidak naik lagi, kalau bisa turun. Sekarang konsumsi beras 139 kg Indonesia per kapita per tahun, itu tertinggi di dunia. Dari segi gizi dan kesehatan kurang bagus, hingga lebih baik kalau kita makanannya lebih beragam," kata deputi Menko Perekonmian Bayu Krisna Murthi di kantor Menko Perekonomian, Jalan Lapangan Banteng, Jakarta, Selasa (9/12/2008).

Kebijakan perberasan juga diusulkan ada cadangan pangan dalam keadaan darurat yang non beras, tapi dalam bentuk makanan siap santap. "Jadi pada saat dalam keadaan bencana selain kita bisa kirimkan beras kita bisa kirimkan makanan cepat saji," katanya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Makanan siap santap dalam kondisi darurat ini menurut Bayu, seperti yang dilakukan TNI dan Polri dalam ransumnya. "Betul-betul siap santap, Misalnya terjadi bencana kan harus kirim berasnya, kompornya, dandangnya, berasnya harus dimasak," katanya.

Langkah untuk menekan konsumsi beras itu dilakukan dengan diversifikasi pangan. "Kita dorong untuk lebih beragam. Lebih sehat lebih model 4 sehat 5 sempurna, insentif pangan juga lebih ditambahkan," katanya.

Untuk kebijakan perberasan ini, menurut Bayu, SK-nya sudah 90 persen jadi. Tadi belum diputuskan apakah akan ditetapkan atau tidak, tapi itu dibahas mengenai investasi yang juga diprioritaskan.

"Target diversifikasi pangan itu seperti saya katakan tadi membuat makanan lebih beragam. Kita harus lebih banyak makan sayur, buah, baru secondarynya ketahanan pangan. Perkiraan kita tahun ini surplus. Jadi bukan karena kekurangan," jelas Bayu.

Untuk diversifikasi ke bahan makanan yang lain menurut Bayu itu terserah masyarakat yang menentukan. "Kita anjurkan untuk terjadi diversifikasi tanpa harus spesifik pada komoditi tertentu. Tapi intinya adalah kita harus bisa mengajak masyarakat untuk mengkonsumsi lebih beragam," katanya.
(ir/lih)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads