"Di dalam Inpres beras mendatang ada langkah diversifikasi bahan pokok untuk menjaga konsumsi beras atau kapita agar tidak naik lagi, kalau bisa turun. Sekarang konsumsi beras 139 kg Indonesia per kapita per tahun, itu tertinggi di dunia. Dari segi gizi dan kesehatan kurang bagus, hingga lebih baik kalau kita makanannya lebih beragam," kata deputi Menko Perekonmian Bayu Krisna Murthi di kantor Menko Perekonomian, Jalan Lapangan Banteng, Jakarta, Selasa (9/12/2008).
Kebijakan perberasan juga diusulkan ada cadangan pangan dalam keadaan darurat yang non beras, tapi dalam bentuk makanan siap santap. "Jadi pada saat dalam keadaan bencana selain kita bisa kirimkan beras kita bisa kirimkan makanan cepat saji," katanya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Langkah untuk menekan konsumsi beras itu dilakukan dengan diversifikasi pangan. "Kita dorong untuk lebih beragam. Lebih sehat lebih model 4 sehat 5 sempurna, insentif pangan juga lebih ditambahkan," katanya.
Untuk kebijakan perberasan ini, menurut Bayu, SK-nya sudah 90 persen jadi. Tadi belum diputuskan apakah akan ditetapkan atau tidak, tapi itu dibahas mengenai investasi yang juga diprioritaskan.
"Target diversifikasi pangan itu seperti saya katakan tadi membuat makanan lebih beragam. Kita harus lebih banyak makan sayur, buah, baru secondarynya ketahanan pangan. Perkiraan kita tahun ini surplus. Jadi bukan karena kekurangan," jelas Bayu.
Untuk diversifikasi ke bahan makanan yang lain menurut Bayu itu terserah masyarakat yang menentukan. "Kita anjurkan untuk terjadi diversifikasi tanpa harus spesifik pada komoditi tertentu. Tapi intinya adalah kita harus bisa mengajak masyarakat untuk mengkonsumsi lebih beragam," katanya.
(ir/lih)











































