China Tambah Pasokan Uang 2009 Sebanyak 17%

China Tambah Pasokan Uang 2009 Sebanyak 17%

- detikFinance
Minggu, 14 Des 2008 15:22 WIB
China Tambah Pasokan Uang 2009 Sebanyak 17%
Jakarta - Pemerintah China akhirnya sepakat menambah pasokan uang sebesar 17% sekaligusΒ  meningkatkan kapasitas pinjaman perbankannya menjadi lebih dari 100 miliar yuan atau US$ 14,6 miliar pada 2009. Hal ini dilakukan untuk menghadang gejolak krisis ekonomi tahun depan.

"Untuk menghadapi serangan krisis finansial global, kami harus memperluas lingkup dukungan finansial demi mendapat kestabilan pembangunan ekonomi," demikian pernyataan resmi China dalam sebuah website yang dilansir AFP, Minggu (14/12/2008).

Tambahan pasokan uang sebesar 17% di 2009 merupakan tambahan terbesar yang meliputi pasokan uang yang beredar ataupun semua deposito. Di 2008, tambahan pasokan uang hanya ditargetkan 16%.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Selain itu, lembaga keuangan yang komersil juga didesak untuk meningkatkan kapasitas pinjaman mereka hingga melebihi 4 triliun yuan.

Jumat akhir pekan lalu, pejabat Shanghai Securities News mengatakan bank komersil China akan menggelontorkan 4,6 triliun yuan dalam bentuk pinjaman bank baru di 2009. Jumah ini naik 15% atau sekitar US$ 87 miliar dari 2008.

Aturan keuangan yang baru ini merupakan bagian dari 'pengaturan fiskal yang aktif dan bisa menenangkan aturan keuangan saat ini ketika permintaan dalam negerinya melonjak.

"Pemerintah China akan mengambil tanggungjawab dan menghadapi berbagai risiko-risiko sambil bekerjasama dengan negara-negara Asia timur lainnya yang juga menghadapi krisis," kata PM China Wen Jiabao.

Aturan ini memang dibutuhkan perbankan yang makin sekarat akibat krisis. Dengan adanya aturan ini, maka bunga pinjaman bisa jadi lebih murah dan nilai tukar yuan terhadap mata uang asing bisa jadi lebih fleksibel.

"Pertumbuhan ekonomi China dan prediksi iklim investasinya tidaklah optimistis. Bank-bank China akan menghadapi tantangan mereka di 2009," kata Ketua Komisi Peraturan Perbankan China Liu Mingkang.

(lih/iy)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads