Orang Kaya Pakai Elpiji 3 kg, Pantaskah?

Orang Kaya Pakai Elpiji 3 kg, Pantaskah?

- detikFinance
Senin, 15 Des 2008 10:04 WIB
Orang Kaya Pakai Elpiji 3 kg, Pantaskah?
Jakarta - Kemudahan mendapatkan elpiji 3 kg dan harganya yang lebih murah membuat banyak masyarakat pengguna elpiji 12 kg beralih ke 3 kg. Termasuk orang-orang kaya yang sebenarnya tak layak disubsidi pemerintah.

Sebut saja sebuah keluarga yang berdomisili di daerah Pondok Gede, Bekasi. Keluarga ini jelas-jelas jauh dari kategori layak disubsidi. Sang suami bekerja di sebuah BUMN blue chip dan sang istri bekerja di perusahaan pertambangan swasta.

Kehidupan mereka pun jelas-jelas sangat berkecukupan dengan rumah berlantai dua dan tiga mobil pribadi yang terparkir di rumahnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Mereka mungkin serba cukup dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari. Tapi ternyata, untuk memasak sehari-hari, keluarga ini memilih menggunakan elpiji 3 kg. Padahal sebelumnya keluarga ini sudah menggunakan elpiji 12 kg, namun karena faktor kemudahan dan harga yang lebih murah, kini mereka menggunakan elpiji 3 kg.

Keluarga ini bisa jadi bukan satu-satunya keluarga mampu yang melakukan hal demikian. Bagaimana tidak, dengan disparitas harga sekitar Rp 1.500 per kg, konsumen tentu lebih senang menggunakan elpiji 3 kg ketimbang 12 kg. Elpiji 12 kg dijual dengan harga Rp 5.750 per kg dan elpiji 3 kg dijual Rp 4.250 per kg.

Apakah ini penyalahgunaan?

Jika dirunut dari sejarah mengapa program konversi minyak tanah ke elpiji 3 kg dilakukan, tentu penggunaan elpiji 3 kg oleh orang-orang kaya tidak dibenarkan. Elpiji 3 kg seharusnya hanya digunakan oleh masyarakat yang tidak mampu yang sebelumnya menggunakan minyak tanah.

Apalagi karena harganya yang lebih murah, subsidi pemerintah terhadap elpiji 3 kg tentu lebih besar dibandingkan subsidi elpiji 12 kg. Jika orang-orang kaya yang lebih mampu ikut menggunakan elpiji 3 kg, artinya ada konsumsi elpiji yang tidak direncanakan sebelumnya.

Kalau orang-orang kaya memilih membeli elpiji jatah orang miskin, bukan hal yang aneh jika penjual menaikkan harga dan memilih menjual elpiji kepada yang kaya. Kalau sudah begini, bagaimana si miskin, yang seharusnya berhak atas elpiji 3 kg bisa terjamin pasokan elpijinya?

Penyimpangan ini memang sudah tercium oleh pemerintah, meski belum ada laporan yang resmi. Menteri ESDM Purnomo Yusgiantoro, Minggu (14/12/2208), menyatakan penyimpangan konsumsi memang kerap terjadi saat ada disparitas harga antara dua produk yang sama.

"Kita belum dapat laporan, tapi kemungkinan ada. Karena 12 kg berbeda dengan 3 kg. Dengan disparitas harga seperti itu, pasti ada penyimpangan, tapi belum terdeteksi," katanya di Kantor Kepresidenan.
Β 
Sementara di sisi lain, Pertamina mengakui belum ada aturan bakuyang bisa melarang orang-orang kaya menggunakan elpiji 3 kg. Alih-alih melarang, tabung elpiji 3 kg yang harusnya dibagikan gratis secara terbatas pada keluarga target konversi kini dijual bebas.

Artinya, keluarga yang bukan target konversi pun bisa bebas membeli tabung elpiji 3 kg dan mengisi ulang seperti halnya keluarga miskin yang jadi target konversi.

"Elpiji 3 kg memang sekarang mulai dijual umum, untuk antisipasi rolling isi ulang yang meningkat," kata VP Communication Pertamina ketika dihubungi detikFinance, Senin (15/12/2/008).

Terkait penggunaan elpiji 3 kg oleh orang-orang kaya, menurut Anang, kemungkinan itu bisa saja terjadi, tetapi tidak jumlahnya tidak signifikan.

"Biasanya yang sudah biasa menggunakan elpiji 12 kg tidak suka pindah ke 3 kg. Karena dia harus lebih sering ganti-ganti tabung. Karena sudah kebiasaan, jadi sulit berubah," kata Anang.

Tapi kalau ditawarkan harga yang lebih murah, apakah orang-orang kaya yang menggunakan jatah si miskin ini masih bisa kukuh pada kebiasaannya? Cek saja di sekitar Anda.

(lih/qom)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads