OPEC Pangkas Produksi Terbesar Hingga 2,2 Juta Barel

OPEC Pangkas Produksi Terbesar Hingga 2,2 Juta Barel

- detikFinance
Kamis, 18 Des 2008 06:27 WIB
OPEC Pangkas Produksi Terbesar Hingga 2,2 Juta Barel
Oran, Aljazair - Organisasi negara-negara pengekspor minyak dunia (OPEC) memutuskan untuk memangkas produksinya hingga 2,2 juta barel per hari, atau terbesar dalam sejarah kartel minyak tersebut. Penurunan produksi berlaku per 1 Januari 2009.

Langkah itu ditujukan untuk mengimbangi tingkat permintaan minyak dunia yang diprediksi akan terus turun, seiring terjadinya krisis finansial. Demikian hasil dari pertemuan OPEC yang berlangsung di Aljazair.

Keputusan 12 negara anggota OPEC itu juga ditujukan untuk menciptakan harga minyak baru, setelah harga minyak kini anjlok lebih dari US$ 100 dolar dari harga tertingginya pada US$ 147 per barel pada pertengahan Juli lalu.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

OPEC sebelumnya telah memangkas produksi minyak setelah harga minyak meluncur tajam. Sejak September, OPEC telah memangkas produksi hingga 2 juta bph, dan ditambah keputusan kali ini menjadi total 4,2 juta bph. Sehingga kini target produksi negara-negara anggota OPEC adalah 24,85 juta, atau turun 15% dari produksi September.

"Saya harap kita mengejutkan Anda, karena jika tidak, kita tidak melakukan apapun mengenai masalah ini," ujar Presiden OPEC, Chakib Khelil seperti dikutip dari Reuters, Kamis (18/12/2008).

Keputusan itu justru membuat harga minyak mentah dunia kian jatuh. Untuk pertama kalinya dalam 4 tahun terakhir, harga minyak mentah dunia turun hingga di bawah US$ 40 per barel.

Pada perdagangan Rabu (17/12/2008), kontrak utama di New York Merchantile Exchange merosot hingga 3,54 dolar menjadi US$ 40,06 per barel, setelah sempat menyentuh US$ 39,88 per barel yang merupakan level terendah sejak Juli 2004.

"Perekonomian dunia semakin memburuk dan memburuk, yang berarti konsumsi minyak lebih rendah. Jadi saya pikir OPEC akan menghadapi masalah kedepan dengan anjloknya permintaan," ujar James Williams dari WTRG Economics, seperti dikutip dari AFP. (qom/qom)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads