Demikian disampaikan oleh Direktur Eksekutif Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (Gimni) Sahat Sinaga saat dihubungi detikFinance, Jumat (19/12/2008).
"Langkah ini untuk antisipasi Natal dan Imlek untuk meredam gejolak harga sesaat, kita akan lakukan dalam hitungan hari ke depan," ujarnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Rupanya di pasar sekarang Rp 7.500, kemasan Rp 7.800 padahal awal Desember harga ditingkat pabrik Rp 6.430 dan per 15 Desember kami sudah turunkan lagi jadi Rp 5.800 per kilo seharus di pasar maksimal Rp 7.000 per kilo," jelasnya.
Dikatakan Sahat, beberapa hari ke depan para produsen minyak goreng akan melakukan penjualan secara langsung ke tingkat ritel termasuk ke tingkat pasar-pasar tradisional. Meski Sahat tidak mengatakan secara lugas, namun ia mengakui kalau cara ini bagian dari operasi pasar yang dilakukan oleh para produsen migor.
"Secara bertahap produsen akan melakukan pendekatan ke ritel-ritel, ke pasar-pasar, akan dipangkas level jalur distribusi yang tadinya 4 hanya 2 atau 1 saja," katanya.
Langkah ini, lanjut Sahat, hanyalah sifatnya sukarela saja setelah pemerintah memberikan himbauan agar produsen minyak goreng melakukan aksi semacam ini. Diharapkan lonjakan harga minyak goreng ditingkat pasar bisa ditekan ke tingkat yang wajar menjelang Natal dan Imlek. (hen/ir)










































