Pengusaha Beri Sinyal PHK Massal di 2009

Pengusaha Beri Sinyal PHK Massal di 2009

- detikFinance
Jumat, 19 Des 2008 18:01 WIB
Pengusaha Beri Sinyal PHK Massal di 2009
Jakarta - Pengusaha telah memberikan sinyal kuat terhadap rencana pemutusan hubungan kerja (PHK) pada tahun depan yang cukup besar. Beberapa sektor rawan PHK telah mengumumkan rencana PHK seperti Tekstil, Sepatu dan lain-lain. Namun sektor makanan dan obat-obatan diperkirakan masih aman terhadap gejola krisis.

"Kita tetap berupaya, langkah terakhir  adalah PHK, paling tidak merumahkan, kita akan meng-cut, pengeluaran, para direksi juga sepakat beberapa perusahaan kalau perlu potong gaji. Kita lakukan kecil-kecilan baru kalau terdesak  pertengan tahun depan puncaknya," kata Ketua Umum Apindo Sofjan Wanandi dalam acara konferensi pers di Jakarta, Jumat (19/12/2008).

Sementera itu Ketua Umum Asosiasi Pertekstilan Indoneia (API) Benny Soetrisno mengatakan tahun depan potensi PHK disektor tekstil mencapai 70.000 sampai 80.000  orang dan 30.000  pada tahun yang dirumahkan dan PHK.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Secara pendapatan,  worse itu bisa turun 50%, atau kalau optimis hanya 70% dari  kondisi normal," ucap Benny.

Untuk sektor Sepatu, melalui Ketua Umum Aprisindo Eddy Widjanarko  tahun depan disektor alak kaki akan terjadi PHK 30.000 sedangkan sampai akhir tahun ini telah mencapai 10.000 orang.

"Orderan masih menunggu pemerintahan  Obama, masih  wait and see," jelas Eddy. Sedangkan dari sisi pendapatan sektor sepatu diperkirakan akan turun 15% sampai 20% pada tahun depan.

Ketua Umum Asosiasi Sepada Motor Indonesia (AISI) Gunadi Sindhuwinata mengatakan bahwa dampak pada sektor otomotif belum berdampak signifikan sehingga tidak berimbas pada PHK namun, kata Gunadi akan ada pemotongan jam lembur/kerja sebagai bagian pengurangan produksi.

"Untuk skala besar tidak terjadi PHK, tapi kalau yang kecil itu statusnya bukan karyawan kalau ada orderan baru kerja, mungkin saja," timpal Ketua Gapmmi Franky Sibarani. Dari sisi omset tahun depan sektor makanan dan minuman diperkirakan akan stagnan dilevel Rp 350 triliun.

"ILO memang memperkirakan 650 000, tapi itu angka konservatif karena bisa lebih. Sektor kontruksi saja dari 15 juta mereka bilang ada rencana 30 persen, tapi misalnya 10 persen saja sudah 1,5 juta orang," tambah Sofjan. (hen/ir)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads