Bush Selamatkan Sektor Otomotif US$ 17,4 Miliar

Bush Selamatkan Sektor Otomotif US$ 17,4 Miliar

- detikFinance
Sabtu, 20 Des 2008 10:57 WIB
Bush Selamatkan Sektor Otomotif US$ 17,4 Miliar
Washington DC - Ketidakpastian soal bailout atau dana talangan untuk industri otomotif AS berakhir. Presiden AS George W Bush menyetujui dana bailout US$ 17,4 miliar yang merupakan pinjaman darurat untuk menghindari hancurnya industri otomotif AS.

Tiga perusahaan otomotif besar di AS yang dikenal dengan 'big three' yakni General Motors, Chrysler LLC dan Ford Motor Co sebelumnya mengajukan dana pinjaman darurat hingga US$ 25 miliar kemudian turun jadi US$ 14 miliar.

Meski sebelumnya mendapat sinyal positif dari kongres AS (DPR), namun oleh senat (DPD) pengajuan dana darurat itu ditolak karena tidak mencapai kesepakatan terutama soal penurunan gaji. 

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Bush semula tidak memberikan sinyal positif terhadap dana talangan. Namun karena kondisi yang makin gawat dengan telah tutupnya beberapa pabrik otomotif Chrysler, pemerintah Bush akhirnya memberikan persetujuan dana darurat US$ 17,4 miliar.

Seperti dilansir Reuters, Sabtu (20/12/2008) pemerintah berharap Chrysler dan GM untuk segera memakai dana tersebut. Sementara Ford meski kesulitan likuiditas masih bisa bertahan untuk saat ini.

"Jika kami membolehkan pasar dengan bebas untuk mengambilnya itu akan mengakibatkan kekacauan, kebangkrutan dan seretnya likuiditas industri otomotif," kata Bush yang memperingatkan AS akan mengalami resesi panjang jika tidak melakukan apa-apa.

Dana sejumlah US$ 13,4 miliar dari total dana yang tersedia, sudah bisa dipakai di bulan Desember dan Januari yang berasal dari dana bailout sektor keuangan  senilai US$ 700 miliar untuk menyelematkan perusahaan-perusahaan di Wall Street.

Bush mengikat pinjaman tersebut selama tiga tahun dan diberikan deadline 31 Maret 2009 ke perusahaan otomotif untuk membuktikan restrukturisasi telah dilakukan untuk mempertahankan usahanya.

Bush akhirnya menyelamatkan sektor otomotif karena tidak ingin meningggalkan masalah ekonomi yang semakin pelik kepada penggantinya Barack Obama yang dilantik 20 Januari mendatang.        



(ir/ir)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads