Hal tersebut disampaikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono saat membuka Munas ke-5 Kadin yang bertema: 'Membangun Ekonomi Daerah untuk Kebangkitan Ekonomi Nasional' di JCC, Senayan, Jakarta, Minggu (21/12/2008).
"Resesi ekonomi dunia akan berlangsung 2 tahun, pasar dunia kecil ekspor mengecil, investasi asing susut sehingga mengurangi petumbuhan. Sumber dana luar negeri tidak mudah didapatkan dan akan semakin terbatas dengan ongkos yang tinggi," urai SBY.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam rangka menghadapi krisis global, pemerintah telah menyiapkan sejumlah prioritas dan agenda. Presiden pun memaparkan sejumlah langkah yang akan diambil kedepan untuk mengatasi krisis.
Pertama, menjaga sektor riil dengan cara pemerintah dan BI terus mengembangkan kebijakan insentif fskal yang diperlukan pusat dan daerah agar sektor riil masih bisa bergerak untuk menjalankan usaha.
Presiden meminta dunia usaha bekerja keras dan berbagai usaha untuk mengatasi kesulitan kewajiban pemerintah menjaga daya beli masyarakat.
"Saudara akan kesulitan kalau barang dan jasa tidak ada yang beli," ujarnya.
Kedua, mencegah PHK. Presiden meminta agar dunia usaha jangan terlalu cepat melakukan PHK.
"Kalau ada tanda-tanda kesulitan koordinasi dengan pemerintah pusat dan daerah agar apapun yang terjadi ada stabilitas supaya melindungi masyarakat dari gonjang ganjing internasional," saran presiden.
Ketiga, menjaga daya beli rakyat. Pemerintah kini masih terus berupaya untuk menghitung kemungkinan penurunan lagi harga BBM. Dengan demikian biaya transportasi pun bisa turun.
Keempat, swasembada beras. Menurut presiden, Indonesia sudah mencapai swasembeda beras dengan surplus 60 juta ton. Tahun depan diharapkan surplus bisa lebih besar lagi untuk beras dan jagung.
"Harga beras harus disesuaikan pas, pengusaha tidak rugi, petani happy," ujarnya.
Kelima, stimulus harus prioritas kalau penerimaan negara tidak cukup.
(epi/qom)











































