Data yang dirilis pemerintah Jepang menunjukkan, selama bulan November, ekspor anjlok hingga 26,7% menjadi 5,33 triliun yen.Sementara impor juga anjlok hingga 14,4% menjadi 5,55 triliun yen.
Defisit perdagangan tercatat sebesar 223,4 miliar yen (US$ 2,5 miliar). Defisit ini tentu jauh lebih besar ketimbang defisit perdagangan Oktober yang tercatat hanya 67,7 miliar yen, dan jauh merosot ketimbang surplus perdagangan 784,4 miliar yen pada periode yang sama tahun lalu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sebagaimana prospek untuk jangka pendek, perekonomian sepertinya akan terus memburuk untuk beberapa waktu, dan juga ada kekhawatiran bahwa situasi pasar tenaga kerja terus memburuk karena turunnya tingkat produksi secara cepat," demikian pernyataan dari kantor pemerintahan Jepang seperti dikutip dari AFP, Senin (22/12/2008).
Dikatakan juga, terdapat risiko terkait gejolak pasar saham dan pasar uang yang akan terus menekan perekonomian. Sementara untuk pelemahan ekonomi selama Desember, disebut karena kemerosotan setiap sektor ekonomi pada tingkat yang sangat berlebihan.
"Tempo pelemahan ekonomi secara substansial semakin cepat dan makin buruk, terdapat banyak faktor negatif yang dapat membuat resesi semakin dalam dan panjang," demikian pernyataan dari pemerintah,
Survei yang dilakukan harian ekonomi Nikkei juga menunjukkan bahwa pesimisme semakin merebak, bahkan termasuk pula untuk perusahaan-perusahaan besar. Survei menunjukkan bahwa 99,3% pemimpin dari137 perusahaan besar Jepang yakin bahwa perekonomian sedang memburuk.
Diantara mereka yang mengatakan bahwa perekonomian memburuk dengan cepat, melonjak dari hanya 10,8% menjadi 86,8%.
Ini adalah defisit perdagangan terburuk yang dialami Jepang selama dua bulan berturut-turut sejak tahun 1980. Ketika itu, Jepang juga mengalami defisit perdagangan terburuk pada Oktober-November 1980 karena krisis minyak. Namun Jepang menikmati surplus perdagangan yang besar setelah itu seiring meningkatnya permintaan otomotif dan barang-barang lain. Namun krisis finansial terkini, serta menguatnya yen terus menggerus kinerja ekspor Jepang. (qom/ir)











































