Demikian disampaikan Direktur Utama Pertamina Ari Soemarno di JCC, usai acara penandatangan kontrak kerjasama RI-China dibidang pertambangan dan energi di Jakarta, Senin (22/12/2008).
"Bahwa harga elpiji sejajar dengan harga contract price (CP) Saudi Aramco. Sekarang mungkin CP nya US$ 380 per ton, cuma itu kan masih di Arab Saudi sana dalam bentuk dingin belum dibawa ke sini. Belum di konversi, biaya penyimpanan, transportasi daratnya, biaya tabung jadi tambahan itu bisa 40% dari Saudi Aramco Price. Biaya transportasi saja ke sini saja bisa 10% sampai 15%," katanya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Itu nggak masuk akal, enggak masuk akal. Coba lihat pembentukkan harga elpiji di manapun seperti apa, itu bukan temuannya Pertamina, itu pengalaman di negara lain," katanya.
Menurut Ari, harga patokan elpiji saat ini ada dua, yaitu CP Aramco di Arab Saudi dan Singapore Posted Price (SPP). SPP merupakan harga elpiji bertekanan yang sudah siap dimasukan ke botol FoB (freight on board) kilang di Singapura.
"Coba bandingkan antara Aramco dengan Posted Price Singapore, bedanya pasti tinggi. Aramco itu minggu yang lalu US$ 380 hari ini saya belum cek," katanya.
Sementara untuk produksi dalam negeri pun saat ini tidak bisa dinaikkan dalam waktu cepat. Kapasitas kilang nasional hanya bisa mengolah elpiji sebanyak 900.000 ton per tahun.
"Sekarang kita akan membangun fasilitas elpiji di lapangan, KPS sudah membangun di Belanak. Itu menghasilkan 800.000, PetroChina sudah memproduksi di Jabung sekitar 700.000 sampai 800.000 MT. Jadi produksi dalam negeri secara total itu cuma 1,7 MT," katanya.
(lih/qom)











































