Alhasil, bisnis percetakan produk kalender yang biasanya memanen rezeki di akhir tahun, nampaknya kini harus gigit jari.
Sebab, sekarang ini banyak perusahaan yang mencoba menekan biaya pengeluaran akibat dampak krisis, termasuk mengurangi pesanan pembuatan kalender yang biasanya menjadi agenda rutin pengeluaran perusahaan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hal ini disampaikan oleh Ketua Umum Asosiasi Pemasok Garmen Indonesia Suryadi saat dihubungi detikFinance, Selasa (23/12/2008).
"Dari 10 teman-teman saya yang bermain di percetakan kalender hampir semuanya mengalami penurunan pesanan dari 25% sampai 50%," jelasnya.
Dikatakannya, biasanya para pelaku usaha percetakan sudah mendapat order menjelang 3 sampai 2 bulan sebelum tutup tahun, namun kali ini selain jumlahnya berkurang waktu pemesanan semakin molor mendekati akhir bulan Desember.
"Saya sendiri selaku pengusaha biasa memesan 15.000 kalender, sekarang hanya pesan 5.000 kalender saja," imbuh Suryadi.
Tidak heran sekarang ini, souvenir kalender perusahaan jarang ditemukan atau diberikan secara besar-besaran kepada klien atau pun konsumen sebagai hadiah atau kenang-kenangan akhir tahun.
Bahkan baginya, sebelumnya para perusahaan garmen menjadi perusahaan yang paling getol memesan kalender, karena dengan memberikan klien kalender bisa menjadi kesan tersendiri bagi para pelanggan garmen.
"Sekarang ini perusahaan saya saja hanya memberikan kepada klien tertentu saja tidak sembarang orang kita beri, tapi kita tetap soal kualitas kita utamakan walau jumlahnya kita turunkan," paparnya.
Suryadi juga mengatakan penurunan permintaan juga terjadi pada teman-teman bisnisnya di sektor pengusaha parsel, juga mengalami penurunan pesanan yang drastis menjelang Natal dan tahun baru ini. "Wah parsel juga turun drastis, gara-gara krisis ini," jelasnya.
(hen/ir)











































