RI Ingin Kerjasama dengan Jepang di Inalum Diakhiri

RI Ingin Kerjasama dengan Jepang di Inalum Diakhiri

- detikFinance
Selasa, 23 Des 2008 14:54 WIB
RI Ingin Kerjasama dengan Jepang di Inalum Diakhiri
Jakarta - PT Indonesia Asahan Alumunium (Inalum) yang merupakan perusahaan patungan pengolah alumina menjadi alumunium antara pemerintah Indonesia dengan konsorsium Jepang Nippon Asahan Alumunium (NAA) bakal ditentukan nasibnya pada tahun 2010 nanti. Penentuan nasib Inalum itu akan segera diputuskan menyusul akan berakhirnya kerjasama di 2013 nanti.
Β 
Pemerintah Indonesia melalui Departemen Perindustrian mengambil sikap untuk tidak melakukan perpanjangan hingga abis masa kontrak 2013. Bahkan Antam diusulkan untuk menjadi BUMN yang melakukan akuisisi Inalum.
Β 
Hal ini disampaikan oleh Dirjen Industri Logam, Mesin, Tekstil dan Aneka (ILMTA) Ansari Bukhari, di acara pemaparan kinerja industri di Departemen Perindustrian, Selasa (23/12/2008).
Β 
Dikatakan Ansari, posisi Departemen Perindustrian terhadap kerjasama Inalum adalah tidak menghendaki adanya perpanjangan kontrak dengan Jepang. Kenyataannya dari produksi Inalum sebanyak 225.000 ton sebanyak 60% dieksporΒ  ke Jepang 60%. Namun ternyata Indonesia masih mengimpor aluminium dengan volume yang hampir sama.

"Jepang maunya kontrak mereka diperpanjang tapi kita maunya diputus di 2013 saat kontrak habis waktu. Nanti di 2010 akan dinegosiasikan apakah di stop atau lanjut," katanya.

Dikatakan Ansari, sekarang ini sudah ada pembicaraan antara Otorita Asahan dan Antam untuk penyerahan Inalum pada tahun 2013. Rencana kedepannya Antam bisa menyuplai bahan baku bauksit dan alumina ke Inalum.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Seperti diketahui, Nippon Asahan Aluminium (NAA) yang merupakan konsorsium 7 perusahaan Jepang memiliki 60% dan 40% saham pemerintah di Inalum.
Β 
Kontrak kerjasama ini berlangsung selama 30 tahun dan akan habis 2013. Selama kurun waktu panjang tersebut Inalum selalu merugi dan memiliki hutang US$ 1 miliar sampai US$ 1,3 miliar.
Β 
Ansari menambahkan pada tahun 2007 Inalum baru mengalami keuntungan karena tahun lalu harga aluminium mengalami kenaikan.
Β 
"Ini juga yang kita nilai tidak produktif. Opsi yang kita wacanakan nanti akan kita ambil alih operasionalnya mungkin dengan gandeng BUMN seperti Antam," jelas Ansari.



(hen/qom)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads