Demikian disampaikan Kepala BP Migas dalam paparan akhir tahun di Gedung Patra Jasa, Jakarta, Selasa (23/12/2008).
Rencana investasi KKKS tersebut tercantum dalam Work, Program and Budget (WP&B) KKKS 2009 yang masuk ke BP Migas.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Tapi WP&B ini belum final, karena ada 64 KKKS. Jadi masih bisa naik lagi," kata Priyono.
Rencana investasi 2009 ini terbilang naik dibandingkan realisasi belanja (expenditure) pada 2008 yang hingga kuartal tiga tercatat sebesar US$ 8,65 miliar.
Menurut Priyono, resesi global dan turunnya harga minyak dunia nampaknya masih belum mengurangi minat perusahaan migas untuk terus berinvestasi di Indonesia.
Salah satu alasannya adalah karena biaya produksi migas di Indonesia bisa dikatakan termurah di dunia, yaitu hanya US$ 9 per barel.
"Mungkin karena biaya produksi di sini paling murah ya. Hanya sekitar US$ 9 per barel," katanya.
Selain itu, produksi migas nasional hingga sekarang masih didominasi oleh perusahaan-perusahaan besar. Perusahaan seperti ini, menurut Priyono, cenderung lebih tahan menghadapi gempuran krisis ekonomi.
"Biasanya mereka yang perusahaan besar punya dana cadangan modal sendiri, jadi tidak tergantung dari pendanaan dari luar," tambahnya. (lih/ir)










































