Percepatan Konversi Elpiji Tidak Realistis

Percepatan Konversi Elpiji Tidak Realistis

- detikFinance
Rabu, 24 Des 2008 09:29 WIB
Percepatan Konversi Elpiji Tidak Realistis
Jakarta - Pemerintah berencana mempercepat program konversi minyak tanah ke elpiji dari 2010 ke 2009. Langkah ini dinilai tidak realistis, karena kelangkaan elpiji di sejumlah daerah belum juga selesai.

Menurut anggota Komisi VII dari FPAN Alvin Lie, beban masyarakat akan makin bertambah karena selain sulit mendapatkan elpiji, minyak tanah murah pun akan segera ditarik dalam jumlah yang besar.

"Kalau elpiji sekarang saja langka, lalu minyak tanah juga akan ditarik, memangnya rakyatnya mau masak pakai apa? Jangan kejar ambisi dan target, tapi nggak tahu kondisi di lapangan," katanya ketika dihubungi detikFinance, Rabu (24/12/2008).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut Alvin, seharusnya pemerintah dan Pertamina membereskan masalah jaringan distribusi dan infrastruktur pendukung program ini terlebih dulu. Bukan hanya sekedar mengejar ambisi dan target penyelesaian program konversi di 2009.

"Sekarang manajemen elpiji saja masih kalang kabut. Terbukti dengan kelangkaan. Wapres dan Menteri ESDM pun mengakui. Tapi sekarang mau percepat konversi. Saya nggak ngerti jalan pikiran pemerintah ini," katanya.

Alvin menambahkan, kurangnya infrastruktur elpiji saat ini bukanlah hal yang tidak bisa diprediksi. Karena sejak awal Pertamina sudah memiliki rencana program terkait berapa tingkat konsumsi dan bagaimana fasilitas pendukungnya.

"Kalau SPBE kurang, bukan Desember ini saja. Sejak berbulan-bulan lalu kan harusnya sudah tahu kurang. Waktu perencanaan juga tahu kebutuhannya berapa, jadi tidak bisa dibilang di luar dugaan. Kalau menurut saya, bisa jadi ini sengaja dijadikan kelangkaan agar bisa impor dengan tunjuk langsung," katanya.

Pengamat Indef Fadhil Hasan pun mengakui, jika percepatan program konversi minyak tanah ke elpiji ini tidak akan efektif. Pemerintah dan Pertamina harusnya berkaca bahwa infrastruktur yang ada bahkan tidak mencukupi realisasi program konversi saat ini,apalagi untuk melayani percepata.
Β 
"Saya kira kalau dilihat dari pengalaman ini tidak efektif. Infrastruktur tidak siap, seperti tabung dan distribusinya. Jadi saya kira harusnya secara bertahap saja. aru bisa dikatakan berhasil kalau rakyat memilih elpiji dengan sukarela, tidak dipaksa," katanya ketika dihubungi.

(lih/ir)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads