Fluktuasi Kurs Bebani Industri Plastik Hilir

Fluktuasi Kurs Bebani Industri Plastik Hilir

- detikFinance
Rabu, 24 Des 2008 15:19 WIB
Fluktuasi Kurs Bebani Industri Plastik Hilir
Jakarta - Fluktuasi kurs rupiah terhadap dolar AS turut memberi dampak pada industri plastik hilir, yakni industri kemasan dan komponen plastik.

Hal ini disebabkan karena komponen bahan baku sektor ini hampir 90% dibeli menggunakan kurs dolar AS tetapi produsen plastik hilir harus menjual dengan kurs rupiah kepada produsen pengguna kemasan.

Untuk itu para produsen mendesak pemerintah agar konsisten dalam penerapan kewajiban transaksi kurs rupiah didalam negeri khususnya bagi produk yang telah diproduksi di dalam negeri.

"Kami dari industri hilir akan terkena dampak maksimal untuk pembelian bahan baku dan jasa dalam negeri yang masih dilakukan dalam transaksi dolar AS yang masih tidak stabil ini," kata Ketua Umum Asosiasi Industri Kemas Fleksibel Indonesia (Rotokemas) Felix S. Hamidjaja dalam acara konperensi pers, di Jakarta, Rabu (24/12/2008).

Felix mendesak pemerintah agar memperjelas semua peraturan dalam implementasi transaksi dalam bentuk rupiah didalam negeri. Bahkan kalau perlu adanya sanksi hukum dan petunjuk pelaksanaan (juklak) dari aturan yang sudah ada dalam penerapan kewajiban penggunaan rupiah didalam negeri.

"Ibaratnya kita tuh sudah jatuh ketiban tangga pula, karena kita harus beli bijih plastik dalam dolar AS walaupun diproduksi dalam negeri, kita olah lalu dijual dengan rupiah," jelasnya.

Ia mencontohkan misalnya Nafta yang selama ini bagian bahan baku bijih plastik yang diproduksi oleh Pertamina, dikatakan Felix menjualnya dengan kurs dolar bahkan ini sudah berlangsung selama 10 tahun.

"Sedangkan kita selama ini menjual kemasan ke perusahaan pengguna kemasan memakai kurs rupiah, jadi kita ibarat jatuh ketiban tangga," keluhnya.

Selama ini komponen bahan baku plastik hampir 90% menggunakan dollar AS dalam pembelian bahan baku sedangkan industri kemasan dan komponen plastik harus menjual semua produk mereka harus dijual rupiah. Hal ini dialami juga di sektor industri hulu petrokimia dalam negeri yang membeli resin dalam dollar AS.

Dikatakannya pembelian bahan baku dalam negeri dari sektor plastik hilir ke hulu setiap tahunnya mencapai US$ 6 miliar.

"Kami di plastik hilir berburu dolar sebulannya mencapai US$ 500 juta," jelas.

Bahkan selama 2 sampai 3 bulan terakhir kalangan produsen plastik hilir mengaku mengalami kerugian 20% dari omzet akibat transaksi dollar di dalam negeri termasuk bahan baku apalagi saat ini terjadinya fluktuasi kurs.

Felix menambahkan bahwa pihaknya sengaja tidak ikut menjual dalam bentuk dolar kerena akan berimbas pada terpuruknya kurs rupiah akan semakin terpuruk.

"Kita sudah kirimkan surat ke presiden yang kami titipkan ke Kadin sebelum pak SBY berangkat ke AS, tapi belum ada respon. Tapi kami melihat pemerintah seolah-olah tidak tahu adanya banyak transaksi dalam negeri dengan dolar," katanya.

Untuk sektor plastik hilir setidaknya hingga kini telah mempekerjakan kurang lebih 600.000 karyawan dari sekitar 5000 lebih perusahaan plastik disektor hilir.

Selama ini produsen plastik hilir banyak memproduksi produk kemasan seperti kemasan minyak goreng, kemasan label air mineral, kemasan mie instan dan lain-lain yang dijual ke beberapa produsen makanan dan minuman.


(hen/qom)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads