Ketiga negara itu telah mengajukan tawarannya ke pemerintah bahkan Jepang pun melakukan hal yang sama. Namun pemerintah belum menanggapinya dengan serius karena pemerintah berkonstrasi untuk mengelola Inalum yang dikabarkan melalui PT Aneka Tambang Tbk.
Seperti diketahui, munculnya minatnya negara lain membeli Inalum karena akan berakhrinya kontrak kerjasama Pemerintah Indonesia dengan Pemerintah Jepang pada 2013.
"Perusahaan-perusahaan besar yang bergerak dalam bidang pengembangan industri aluminium baik dari China, India, Rusia, berminat mengembangkan industri bauksit dan alumina di Indonesia," kata Kepala Otorita Asahan Effendi Sirait dalam pesan singkatnya kepada detikFinance, Rabu (24/12/2008).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Tentu kalau mereka jadi, pemasaran alumina itu diarahkan selain ekspor juga ke PT Inalum yang membutuhkan alumina sebesar 500.000 per tahun. Ini juga yang kita harapkan untuk memperkuat struktur industri berbasis aluminium di Indonesia," paparnya.
Namun katanya kalau memang 3 negara tadi berminat terhadap Inalum, itu suatu yang wajar karena selama ini kinerja Inalum akhir-akhir ini memang semakin bagus dari kinerja sebelumnya.
Sampai saat ini produksi Inalum sebanyak 225.000 hingga 240.000 ton pertahun. Untuk menghasilkan produksi aluminium sejumlah tersebut diperlukan bahan baku alumina impor sebanyak 500.000 ton per tahun.
Sebelumnya, Dirjen Industri Logam, Mesin,Tekstil dan Aneka Departemen Perindustrian Ansari Bukahari mengatakan Inalum akan diambil alih oleh pemerintah Indonesia pada 2013, menyusul sikap pemerintah yang menghendaki mengelola Inalum secara sendiri.
"Pihak Jepang masih ingin melanjutkan kerja sama dengan Indonesia tetapi saya rasa tidak mungkin dilanjutkan. Karena pemerintah sudah membentuk tim pengambilalihannya. Terlebih sejak setahun terakhir ini Inalum sudah bayar pajak dividen ke pemerintah," kata Ansari.
(hen/ir)











































