Demikian disampaikan Menteri ESDM Purnomo Yusgiantoro disela-sela silatruhami Natal di Widya Chandra, Jakarta, Kamis (25/12/2008).
"Kalau kalian tanya saya, saya rasa itu mungkin. Kalau akan masuk ke pasar memang premium dan solar duluan. Sudah ada dalam skenario kita," katanya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Yang paling kita lihat nanti di spring. Maret, April dan Mei. Kalau waktu itu di bottom (rendah), rolling (berlanjut) terus sampai summer," katanya.
Selain itu faktor lain yang harus diwaspadai adalah kurs dan APBN. Dalam APBN 2009, pemerintah mengalokasikan subsidi BBM sekitar Rp 65 triliun.
Jika premium dan solar dilepas ke harga pasar, maka subsidi yang tersisa akan dialihkan ke subsidi langsung melalui berbagai program seperti BLT, KUR, dan PNPM Mandiri.
"Kalau nggak disubsidi juga nggak apa-apa. Kita akan selalu komunikasi dengan DPR. Uangnya nggak akan kemana-mana, karena tetap untuk ke rakyat. Dan akan diaudit BPK maupun BPKP," katanya.
Dengan dilepasnya premium dan solar ke harga pasar, maka terbuka kesempatan bagi badan usaha lain untuk ikut mendistribusikannya.
Purnomo mengatakan, daripada menganut sistem monopoli seperti sekarang, lebih baik pasar dibuka untuk model oligopoli dengan Pertamina sebagai market leader.
"Misalkan ada 5-6 pemain, Pertamina jadi market leader. Bahkan setelah premium dan solar sudah dibuka. Yang lainnya kecil-kecil. Misalkan Pertamina 70%, 80%. Daripada 100% seperti sekarang," katanya.
Namun menurut Purnomo, tidak banyak badan usaha yang kini menyediakan RON 88 karena memang sudah tidak ada di pasar internasional.   Â
(lih/ir)











































