"Masih terlalu pagi kalau sekarang ini pemerintah dikatakan untung atau rugi," kata Purnomo dalam paparan Kinerja Sektor ESDM tahun 2008, di Gedung ESDM, Jakarta, Selasa (30/12/2008).
Purnomo menegaskan, selisih untung atau rugi pemerintah dari BBM hanya akan diputuskan oleh lembaga pemeriksa termasuk oleh BPKP yang akan dilakukan pemeriksaan per tahun. Ia juga menepis anggapan para pengamat kalau pemerintah mengalami keutungan dari BBM mengingat fluktuasi harga minyak kedepannya belum bisa dipastikan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun Purnomo memastikan bahwa untuk minyak tanah, pemerintah masih memberikan subsidi meski ada program konversi. Untuk tahun 2008, realisasi subsidi minyak tanah mencapai Rp 48,202 triliun, padahal konversi minyak tanah ke gas telah dilaksanakan.
"Meskipun konversi minyak tanah ke elpiji sudah dilaksanakan namun subsidi minyak tanah tetap terbesar," ujar Purnomo.
Angka ini, lanjut Purnomo, telah melampaui rencana anggaran subsidi minyak tanah di tahun ini. Rencana untuk subsidi sebesar Rp 37,949 Triliun namun realisasinya 48,202 triliun.
Untuk realisasi subsidi Premium, imbuh Purnomo, sebesar Rp 41,958 triliun dari rencana subsidi Rp 44,048 triliun. Sedangkan untuk solar mencapai Rp 44,248 triliun dari rencana subsidi Rp 32,649 triliun. Sehingga realisasi subsidi BBM tahun 2008 yaitu Rp 134,409 triliun.
Subsidi elpiji yang pada tahun 2008 direncanakan sebesar Rp 9,565 triliun, namun realisasinya sebesar Rp 5,597 triliun. Untuk listrik realisasi subsidi tahun ini yaitu Rp 60,290 triliun dari rencana Rp 61.010 triliun. Sehingga total realisasi subsidi ditahun 2008 yaitu 200,296 triliun.
APBNP 2008 mengalokasikan dana untuk subsidi sebesar Rp 234,41 triliun. Angka tersebut terdiri dari subsidi BBM Rp 126,82 triliun, subsidi listrik Rp 60,29 triliun.
(hen/qom)











































