Demikian disampaikan Wadirut PLN Rudiantara ketika ditemui di Gedung Kementrian BUMN, Jakarta, Rabu (31/12/2008).
"Kemarin yang Tanjung Jati, kita itu kan agreement leasing, jadi kita beli listrik dengan metode leasing. Jadi bukan IPP yang di Tanjung Jati itu," katanya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Tenornya lebih pendek dari Tanjung Jati yang sekarang. Dari harga jadi
lebih murah," katanya.
Rudiantara menambahkan, loan agreement untuk pinjaman proyek PLTU Tanjung Jati B sudah ditandatangan minggu lalu antara Sumitomo sebagai kontraktor dan JBIC selaku perbankan yang mengucurkan kredit.
"Loan agreementnya sudah ditandatangan antara perbankan di Jepang yang dipimpin oleh JBIC dan Sumitomo. Nilai investasinya samapi 200 miliar yen," katanya.
Selanjutnya, financial closing diharapkan bisa selesai Januari 2009 dan listrik bisa mulai dikirmkan 35 bulan setelahnya atau pada 2012.
Kondisi ini, bagi Rudiantara, merupakan hal yang positif karena menunjukkan kepercayaan investor luar negeri yang masih besar terhadap proyek di Indonesia meski situasi ekonomi dunia dan Jepang sendiri sedang resesi.
Kepercayaan pasar juga terlihat dari peningkatan volume obligasi PLN sebesar 20 persen. Nilai obligasi PLN yang sebelumnya Rp 1,5 triliun menjadi Rp 1,8 triliun.
"Kita putuskan upsize minimal 20 persen dari Rp 1,5 triliun sampai maksimal
35 persen nanti kita lihat lagi hasilnya seperti apa," katanya.
Peningkatan nilai obligasi ini, menurut Rudiantara, merupakan hasil dari respons bookbuilding yang sudah dilakukan. Selanjutnya, para calon pembeli diharapkan bisa mendaftarkan diri pada minggu kedua Januari 2009 atau antara tanggal 5-9 Januari 2009.
(lih/qom)











































