Hal ini disampaikan oleh Dirut Pertamina Ari Soemarno dalam acara konfrensi pers di Gedung Pertamina, Rabu (31/12/2008).
Sedangkan hingga sampai kuartal ketiga 2008, laba sebelum pajak mencapai Rp 40,3 triliun dan laba setelah pajak Rp 26,4 triliun. Perhitungan laba sampai kuartal ketiga 2008 menggunakan harga minyak mentah Indonesia atau Indonesia crude price (ICP) US$ 112 per barel.
"Hingga akhir Desember prognosa laba sebelum pajak Rp 50 triliun, laba bersihnya sekitar Rp 30 triliun," katanya.
Dikatakannya dari perolehan itu kegiatan sektor hulu migas menyumbang perolehan laba sebesar 70% dari total laba sedangkan sisanya di sektor hilir.
Pihaknya memperkirakan pendapatan dan laba Pertamina pada 2009 akan merosot tajam karena penurunan harga minyak mentah dunia. "Jika memakai ICP US$ 50 per barel maka pendapatan dan keuntungan jelas akan turun tajam," ujarnya.
Ia mencontohkan jika harga ICP US$ 80 per barel dan kurs Rp 9.400 per dolar AS maka laba bersih akan mencapai Rp 19 triliun. Sedangkan jika US$ ICP 50 per barel dan kurs Rp 11.000 per dolar AS, maka laba bersih hanya Rp 13,8 triliun pada 2009.
"Kami juga merugi dari pendistribusian BBM bersubsidi dengan alpha 8% pada harga ICP US$ 50 per barel," katanya.
(hen/lih)











































