Tahun 2008 PLN membukukan laba usaha sebesar Rp 600 miliar dan total kerugian sebesar Rp 6,5 triliun.
Demikian dijelaskan Dirut PLN Fahmi Mochtar disela-sela kunjungan ke PLTGU Tanjung Priok, Jakarta, Rabu (31/12/2008) malam.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pemerintah dan DPR sebelumnya menyepakati asumsi harga minyak dalam APBN 2009 sebesar US$ 80 per barel. Sementara nilai tukar yang disepakati adalah Rp 9.400 per dolar AS.
Laba usaha sebesar itu juga sudah memperhitungkan marjin usaha yang disepakati sebesar 1%. Meski PLN menganggap seharusnya perseroan bisa mendapatkan marjin yang lebih besar.
Fahmi menambahkan, faktor utama peningkatan laba usaha dan turunnya kerugian
perseroan adalah efisiensi yang dihasilkan dari program penggatian bahan bakar pembangkit dari BBM ke gas.
Porsi penggunaan BBM sebagai bahan bakar pembangkit PLN yang pada 2008 mencapai 34%, akan diturunkan menjadi sekitar 20-25%. Jika konsumsi BBM PLN tahun ini mencapai 11 juta KL, maka tahun depan akan ditekan menjadi sekitar 8 juta KL atau turun 3 juta KL.
"Dengan usaha itu, kita bisa turunkan subsidi dari Rp 88 triliun menjadi Rp 60 triliun. Itu dengan menggunakan asumsi harga minyak dan kurs yang ada di APBN," katanya.
Artinya, dengan harga minyak yang terus turun mencapai di bawah US$ 50 per barel, maka subsidi diperkirakan bisa ditekan sekitar Rp 10 triliun lagi.
Capex
Sementara untuk rencana belanja modal (capex) pada 2009, PLN menganggarkan dana sekitar Rp 46,37 triliun.
Dana sebanyak itu akan digunakan untuk sub sektor pembangkit sebanyak RP 30 triliun, sub sektor transmisi sebanyak Rp 10,37 triliun dan sub sektor distribusi sebanyak Rp 6 triliun.
"Paling besar memang pembangkit, karena kita masih ada proyek 10.000 MW di 2009," kata Fahmi. (lih/qom)











































