"Kita sudah melakukan antisipasi krisis dari sejak 4 bulan terakhir di tahun 2008. Hasil antisipasi tersebut, growth kita tidak drop," jelas Presiden SBY dalam pidatonya saat membuka perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia di Gedung BEI, Jakarta, Senin (5/1/2009)..
"Memang target semula 6 koma sekian persen, tahun lalu (2007) 6,3%, Insya Allah pertumbuhan ekonomi kita hingga akhir 2008 berkisar 6-6,1%. Jadi hanya turun 0,2% dari tahun 2007. Ini termasuk yang tertinggi di dunia," imbuh SBY dengan bangga.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
- Amerika Serikat, dari 2% diperkirakan turun menjadi 1,2%.
- Inggris dari 3% menjadi 0,8%.
- Jepang dari 2,4% diperkirakan menjadi 0,1%.
- Australia dari 4,1% menjadi 2,4%,
- Malaysia dari 6,3% menjadi 5,5%.
- Singapura dari 7,7% menjadi 2,1%,
- China yang pertumbuhan ekonomiinya paling cepat turun dari 12% menjadi 10%.
"Dan Indonesia sendiri dari 6,3% menjadi 6,1%. Ini karena kerja keras antisipasi kita. Jadi pertumbuhan ekonomi kita tidak seburuk dari yang diprediksi berbagai kalangan," ujarnya.
Selain mampu mengatasi krisis, Presiden pun mengungkapkan kegembiraannya atas tercapainya ketersediaan bahan pangan.
"Memang 2008 terjadi kenaikan harga, bahan pokok tapi dibanding negara lain masih banyak negara-negara selain kita yang inflasinya lebih tinggi. Padi dan beras yang menjadi tumpuan kehidupan kita dengan kerja keras produksi bisa tumbuh 6%. Dan kita sudah mengalami swasembada beras dengan produksi 6 juta ton gabah kering giling. Ini memperlihatkan keberhasilan pertanian kita," urainya. (qom/ir)











































