Inflasi RI Paling 'Keras Kepala'

Inflasi RI Paling 'Keras Kepala'

- detikFinance
Selasa, 06 Jan 2009 07:05 WIB
Inflasi RI Paling Keras Kepala
Jakarta - Rekam jejak inflasi Indonesia selalu lebih tinggi dibandingkan negara lain di Asia Pasifik. Bahkan inflasi Indonesia paling gampang menembus angka dua digit, namun susah untuk kembali ke single digit.

Plt Menko Perekonomian Sri Mulyani Indrawati menjelaskan, Indonesia hingga kini belum bisa mencapai level inflasi setara dengan kondisi di kawasan di sekitar 3%.

"Untuk mampu bersaing di tingkat global, Indonesia perlu menekan inflasi ke tingkat 3-5 persen per tahun," ujar Sri Mulyani saat memaparkan evaluasi ekonomi 2008 dan proyeksi 2009 di Gedung Depkeu, Jalan Wahidin Raya, Jakarta, Senin (5/1/2009) malam.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dalam sejarah, inflasi Indonesia selalu berkisar 6% paling rendahnya. Bahkan inflasi Indonesia bisa sangat mudah menembus 2 digit di atas 10%, sejak masa orde baru.

"Ada masalah struktural dalam pembentukan harga di Indonesia," jelas Sri Mulyani.

Rekam jejak inflasi Indonesia dari tahun ke tahun adalah:
  • 2004: 6,4 persen
  • 2005: 17,1 persen
  • 2006: 6,6 persen
  • 2007: 6,7 persen
  • 2008: 11,1 persen.

Catatan inflasi yang tinggi pada tahun 2005 terjadi setelah adanya kenaikan harga BBM sebanyak 2 kali. Harga-harga pun mengalami penyesuaian setelah kenaikan harga BBM itu.

Sementara untuk tahun 2008, lonjakan inflasi terjadi karena kenaikan harga yang tinggi pada volatile foods dan administered price.

Perbandingan inflasi Indonesia dengan negara-negara lain di Asia di tahun 2008 adalah:
  • Indonesia: 11%
  • Thailand: 3%
  • Malaysia: 4,3%
  • Filipina: 4,5%
  • Korea Selatan: 3%.

"Indonesia stubbornly bisa dianggap kurang baik soal inflasi. Negara lain cepat kembali kalau sudah menembus 2 digit, tapi kalau kita susah kembali," jelas Sri Mulyani. (qom/qom)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads