Harga Minyak Memasuki Antiklimaks

Harga Minyak Memasuki Antiklimaks

- detikFinance
Kamis, 08 Jan 2009 10:08 WIB
Harga Minyak Memasuki Antiklimaks
Jakarta - Harga minyak mentah dunia kini memasuki masa antiklimaks. Setelah mencapai masa puncaknya pada pertengahan 2007 hingga pertengahan 2008, kini harga minyak mentah dunia berada di tebing penurunan harga.

Menurut mantan Gubernur OPEC untuk Indonesia Maizar Rahman, harga minyak sempat stabil pada 2005 hingga pertengahan 2007. Berdasarkan data Departemen ESDM, saat itu harga minyak betah di kisaran US$ 50 per barel.

Namun sejak akhir semester pertama 2007, harga minyak mengalami peningkatan harga yang signifikan melebihi perkiraan banyak orang. Harga minyak, perlahan tapi pasti, menjajaki level US$ 70 per barel, dan terus naik hingga US$ 90 per barel pada akhir tahun 2007.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Peningkatan terus berlanjut di tahun selanjutnya. Tahun 2008 dibuka dengan rekor harga minyak yang akhirnya menembus US$ 100 per barel pada bulan Januari 2008. Puncaknya adalah pada Juni 2008 saat harga minyak mentah menyentuh level tertinggi sepanjang masa, yaitu US$ 147 per barel.

Namun memasuki semester dua 2008, harga minyak kemudian turun. Salah satu penyebab yang membuat harga minyak terus tergelincir adalah kredit macet di AS yang berdampak pada krisis ekonomi global.

Akhirnya, harga minyak mentah dunia 2008 di tutup di kisaran US$ 42-45 per barel. Harga minyak di penutupan tahun ini anjlok 70% dari harga puncaknya.

Pola yang hampir serupa dialami Indonesi Crude Price (ICP). ICP bulanan yang sempat mencapai rekor pada Juni 2008 di level US$ 134,96 per barel, akhirnya tersungkur ke US$ 96,13 per barel di akhir tahun. Β 

"Seperti halnya gunung harga, mulai pertengahan 2007 harga minyak naik terus. Lalu di pertengahan 2008 turun menjadi sangat rendah," kata Maizar saat dihubungi detikFinance, Rabu (7/1/2009).

Kini, setelah meninggalkan puncak gunungnya, harga minyak mentah diperkirakan akan kembali ke level tiga tahun lalu. Apalagi dengan adanya krisis ekonomi, turunnya permintaan akan mendesak harga minyak terus turun.

"Kalau 2009, mestinya harus kembali ke situasi dimana faktor spekulasi tidak lagi dominan. Menurut satya, harga minyak tidak jauh dari 2005. Dalam kondisi terbaik pun, harga minyak ada di kisaran US$ 50-70 per barel. tapi kalau perekonomian lebih lemah lagi, bisa ke level US$ 30-40 per barel," katanya.

Maizar menambahkan, harga minyak pada 2009 akan menjalani masa transisi dan akan stabil mulai 2010. Hal ini karena krisis ekonomi yang akan mencapai puncak pada 2009 dan mulai stabil di 2010.

Gempuran fluktuasi harga minyak selama ini jelas makin menegaskan betapa liarnya harga emas hitam ini. Dirjen Migas Evita Legowo pun mengakui, harga minyak memang sangat sulit diprediksi.

"Paling susah diprediksi, apalagi dengan kondisi global seperti sekarang. Naik sekali, lalu turun lagi," katanya ketika dihubungi.

Meski sulit diprediksi, pemerintah tetap harus mengambil keputusan untuk menetapkan satu angka yang akan menjadi asumsi dalam perhitungan APBN. Asumsi harga inilah yang kemudian akan digunakan untuk menghitung penerimaan negara sampai penentuan harga BBM.

Menurut Evita, pemerintah menggunakan tiga hal penting dalam menetapkan harga BBM, yaitu ICP, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS dan keseimbangan APBN.

Jika mengambil contoh 2008, asumsi ICP yang digunakan di APBN terbilang cukup relevan. Menurut Data Departemen ESDM, realisasi ICP rata-rata sepanjang 2008 mencapai US$ 96,13 per barel atau tidak berbeda jauh dari asumsi APBNP 2008 yang sebesar US$ 95 per barel.

"Artinya prediksi pemerintah cukup baik, karena selisihnya kecil sekali. Itu terkait dengan perhitungan APBN 2008," tambahnya.

Lalu bagaimana dengan ICP 2009? Apakah ramalam pemerintah akan kembali mendekati kenyataan atau justru jauh dari yang terjadi? Yang pasti, Evita menegaskan, tidak ada yang bisa memperkirakan pergerakkan harga minyak.

"Sulit diantisipasi," tandasnya.

Harga minyak di pasar Asia pada Kamis ini (8/1/2009) naik tipis 42 sen menjadi US$ 42,77 per barel untuk minyak jenis light sweet pengiriman Februari. Sedangkan minyak untuk jenis Brent North Sea pengiriman Februari di posisi US$ 45,94 per barel. (lih/ir)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads